Teori Musik Dasar, Part 1 – Pentingnya Teori Musik, Musical Alphabet, Accidental, dan Tangga Nada Mayor

Halo pemirsa dan teman-teman yang sedang membaca,

Semoga Tuhan YME selalu memberkati hidup kalian dengan damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal! Sekali lagi, saya sungguh berterima kasih atas segala dukungan dan pesan-pesan positif yang saya terima selama ini – you guys are the best, and I absolutely cannot thank God enough for you all!

Berdasarkan dari request yang saya terima di IG Stories selama ini, banyak yang meminta saya untuk menjelaskan tentang akord miring dan cara menggunakannya dalam lagu atau aransemen a cappella. Sebelum saya membahas tentang akord miring, saya harus menjelaskan beberapa hal-hal dasar yang penting (dan juga mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama), sebab tanpa pengertian teori musik dasar kalian bisa kesulitan mencerna konsep-konsep yang lebih kompleks.

Nah, oleh karena itu, saya memutuskan untuk membuat serial baru berjudul “Teori Musik Dasar”, di mana setiap minggunya saya akan menjelaskan beberapa basic dalam teori musik yang harus dimengerti. Saya akan membahasnya secara bertahap, jadi apabila ada pertanyaan, jangan lupa untuk DM saya di IG (https://www.instagram.com/timc9219/) atau tulis pertanyaan kalian di Comments Section di bawah. Jadi, let us get started, and here we go…

Mengapa Teori Musik Itu Penting?

Banyak sekali yang sering menganggap teori musik itu tidak penting dan hanya merupakan peraturan-peraturan yang membuat seni musik itu terbatas. Padahal, menurut gw secara pribadi, justru teori musik itu sangat penting karena:

Teori mampu membantu kita mengkomunikasikan musik yang ingin kita mainkan dengan musisi lain. Tanpa teori, mengkomunikasikan musik dengan teman-teman musisi kita di band, paduan suara atau ensemble akan menjadi sulit. Seperti contoh, seorang dirigen koor bakal kewalahan mengkomunikasikan pada para sopran apa yang harus dinyanyikan apabila doi tidak mengerti teori musik sama sekali.

Teori mampu membuat kita jadi lebih mengapresiasi musik. Dengan mengerti teori musik, at least on a basic level, kita jadi bisa menjelaskan mengapa modulasi yang terjadi di bridge Here, There Everywhere dari The Beatles (dengarkan video di bawah pada menit 1:00) memberi kehangatan tersendiri pada lagu tersebut atau mengapa transisi antara bagian-bagian yang berbeda di Bohemian Rhapsody terdengar sangat seamless atau mulus. Pengertian teori musik akan membuat kita mampu menganalisa detil-detil yang membentuk lagu tersebut dengan lebih dalam, dan hal itu justru mampu membuat kita jadi lebih mengapresiasi karya-karya musik yang ada dan talenta-talenta yang telah membuatnya.

Here, There and Everywhere, salah satu mahakarya dari The Beatles. Dengarkan modulasi yang terjadi dari G mayor ke G minor di bagian bridge pada menit 1:00 sebelum kembali lagi ke G mayor pada menit 1:13. Pengertian tentang teori musik akan mampu menjelaskan mengapa bridge tersebut terdengar lebih melankolis, sehingga memberi efek emosional yang lebih signifikan bagi pendengarnya.

Teori musik bisa menjadi panduan untuk mencari solusi jika seorang musisi sedang mengalami kesulitan saat berkarya. Tanpanya, seorang musisi bisa berpotensi menemukan jalan buntu atau writer’s block akibat dari tidak adanya panduan atau guide. Sebagai sebuah contoh, seorang pemain gitar yang hanya bisa menghafal bentuk akord namun tidak bisa membuat progresi yang menarik dan enak didengar adalah contoh dari jalan buntu tersebut, di mana dia tidak mengerti mengapa melodi yang dia ciptakan terdengar fals saat dimainkan di atas progresi akord yang ada. Situasi-situasi seperti ini bisa dihindari dengan mempelajari teori musik, sebab sang gitaris jadi mampu menjelaskan mengapa akord-akord yang dia mainkan tidak enak untuk mengiringi melodi yang ada sehingga mampu melakukan perubahan yang dibutuhkan dan menciptakan karya yang lebih enak didengar.

And last but not the least……

Teori musik mampu membuat seorang musisi menjadi jauh lebih original dan kreatif, tidak seperti yang dipercaya kebanyakan orang. Ini jelas poin yang sangat penting sebab sebagai kreator konten, songwriter atau musisi, kita tidak mau membunuh kreativitas kita dengan menciptakan karya yang formulaik dan generik terus menerus. Sebagai contoh, di posting-posting sebelumnya, dengan menggunakan contoh Jacob Collier, saya menjelaskan bagaimana pengertian teori musik mampu memberi doi kualitas harmoni yang jauh lebih menarik dan berbeda.

Contoh reharmonisasi jazz dari Mary Had A Little Lamb, sebuah nursery rhyme yang terkenal. Mengerti teori musik justru bisa membantu kita menciptakan karya yang berbeda dan tidak klise.

Jika kita meng-approach teori musik dengan pola pikir yang benar, alias tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang akan membelenggu, kita bukannya akan merasa terbatas, namun justru sebaliknya – kita malah akan menemukan suara kita sendiri dalam berkarya, dan itu yang menurut saya sangat penting apabila kita ingin sukses dalam bidang musik. Melodi dan harmoni yang kita ciptakan juga tidak akan terdengar klise, dan kita juga bisa berimprovisasi tanpa merusak esensi dari lagu yang kita ciptakan atau cover. Seru, bukan? Hehehe

Untuk permulaan dari topik teori musik, saya akan menjelaskan 3 topik penting di posting ini terlebih dahulu, yaitu:

  • Musical alphabet atau yang bisa disebut juga sebagai alfabet musik,
  • Accidentalflat (mol, b) dan sharp (kres, #),
  • Tangga nada mayor (major scale).

Musical Alphabet / Alfabet Musik

Secara simpelnya, alfabet musik, atau musical alphabet, digunakan untuk merepresentasikan not yang dimainkan oleh sebuah instrumen atau dinyanyikan oleh seorang penyanyi. Setiap not jadi memiliki satu alfabet untuk merepresentasikannya. Seperti mempelajari Bahasa Inggris atau Indonesia, musik juga merupakan suatu bahasa – tanpa alfabet musik, kita bakal sulit untuk menentukan dan mengkomunikasikan not apa saja yang sedang atau harus dimainkan atau dinyanyikan oleh musisi tersebut.

Alfabet musik itu hanya terdiri dari 7 – A sampai G, jadi tidak ada H-Z hehehe. Setiap kali kita telah melewati G ke atas, otomatis kita akan masuk ke A yang lebih tinggi, dan saat kita melewati A ke bawah, kita akan masuk ke G yang lebih rendah, dan seterusnya, seperti ini:

A B C D E F G A B C D E F G…….. (Ke atas)

G F E D C B A G F E D C B A…….. (Ke bawah)

Berdasarkan alfabet musik di atas, jarak dari A ke A yang lebih tinggi, B ke B yang lebih tinggi, C ke C yang lebih tinggi, dan seterusnya itu disebut dalam musik sebagai satu oktaf.

Akan tetapi, meski hanya ada 7 alfabet, musik itu tidak hanya terdiri dari 7 not saja, namun 12. Hal tersebut bisa dijelaskan dengan konsep…

Accidental – Flat (mol, b) dan Sharp (cres, #)

Dalam musik, accidental adalah tanda yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan nada dengan jarak setengah. In this case, tanda flat atau mol (b) digunakan untuk menurunkan nada dengan jarak setengah, dan tanda sharp atau cres (#) digunakan untuk menaikkan nada dengan jarak yang sama.

Biasanya, nada yang sudah dinaikkan setengah juga bisa ditulis sebagai alfabet nada yang lalu diikuti dengan kata ‘-is’, seperti berikut:

  • C# – Cis atau C cres / C sharp
  • D# – Dis atau D cres / D sharp
  • F# – Fis atau F cres / F sharp
  • G# – Gis atau G cres / G sharp
  • A# – Ais atau A cres / A sharp

Nada yang sudah diturunkan setengah ditulis sebagai alfabet nada yang lalu diikuti dengan kata ‘-es’, seperti berikut:

  • Bb = Bes atau B mol / B flat
  • Ab = Aes atau A mol / A flat
  • Gb = Ges atau G mol / G flat
  • Eb = Es atau E mol / E flat
  • Db = Des atau D mol / D flat

Tambahan 5 not dengan accidental tersebut memberi total 7 + 5 = 12 not dalam musik, yang juga direpresentasikan dengan instrumen piano/keyboard sebagai berikut:

piano keys notes
Sumber: http://www.howtosingsmarter.com/piano-keys-notes/

12 not dalam sebuah piano/keyboard yang terdiri dari 7 not natural (A, B, C, D, E, F, G) dan 5 not dengan accidental (A#/Bb, C#/Db, D#/Eb, F#/Gb, dan G#/Ab)

Berdasarkan ilustrasi not-not dalam piano di gambar atas, bisa dilihat bahwa not A# dan Bb berbunyi sama, dan begitu juga C# dan Db, D# dan Eb, F# dan Gb serta G# dan Ab. Nada yang disebut berbeda namun mewakili bunyi yang sama ini merupakan suatu enharmonic, dan mana penggunaannya yang benar itu semuanya tergantung dari kunci yang dimainkan atau dinyanyikan. Semisalnya, jika kita menyanyi atau memainkan musik di D mayor:

D-E-F#-G-A-B-C#-D

Kita tidak bisa menulis F# sebagai Gb dan C# sebagai Db, sebab akibatnya kita jadi nantinya memiliki dua G (Gb dan G) dan dua D (Db dan D), yang salah berdasarkan dari peraturan alfabet musik. Sebaliknya, untuk contoh flat/mol, jika kita menyanyi atau memainkan musik di F mayor:

F-G-A-Bb-C-D-E-F

Kita tidak boleh menulis Bb sebagai A#, sebab akibatnya kita jadi nantinya memiliki dua A (A dan A#), yang jelas-jelas merupakan penulisan not yang salah berdasarkan key signature tersebut.

Tangga Nada Mayor (Major Scale)

Sebelum kita maju ke hal-hal seperti tangga nada minor, harmoni, akord miring dan modes nantinya, kita harus mengerti tangga nada mayor terlebih dahulu. Tangga nada mayor atau major scale itu merupakan fondasi dari hampir semua melodi atau harmoni musik yang kita mainkan atau nyanyikan apapun genre-nya, dan konsep-konsep teori musik yang lebih mendalam juga semuanya diawali dari sini dulu. Karena itu, di semua buku teori musik dasar, kita tidak pernah luput dari yang namanya major scale, hehehe…..

Pada dasarnya, tangga nada mayor itu adalah sebuah tangga nada diatonik atau dengan nada-nada tanpa perubahan kromatik apapun yang terdiri dari 8 not. Interval atau jarak antara not yang berurutan dalam sebuah major scale terdiri dari 1-1-0.5-1-1-1-0.5, atau jika dalam bentuk solfeggio, seperti yang biasa diajarkan di sekolah musik, kursus piano atau vokal:

do-re-mi-fa-so-la-ti-do

Berdasarkan dari solfeggio yang ada, kita bisa melihat bahwa do-re = 1, re-mi = 1, mi-fa = 0.5, fa-so = 1, so-la = 1, la-ti = 1, ti-do = 0.5. Tangga nada mayor juga terdengar lebih ‘terang’ dan gembira, dan hal ini disebabkan oleh adanya nada ‘mi’ atau berjarak/interval satu major third dari do (saya akan menjelaskan tentang interval di posting-posting selanjutnya, jadi tidak usah panik apabila tidak mengerti).

Sumber: https://www.musictheorytutor.org/wp-content/uploads/2012/10/solfege.png

Tangga nada C mayor atau dengan do = C.

Nah, berdasarkan dari konsep accidental, kita bisa membuat skala mayor berdasarkan dari ‘do’ atau kunci/key center tersebut. Sebagai contoh, dalam kunci D mayor, kita bisa tulis alfabet dan lalu tambah accidental yang benar berdasarkan pengertian 1-1-0.5-1-1-1-0.5 tadi:

D-E-F#-G-A-B-C#-D

Jadi, apabila do = D, maka ada 2 sharp/kres agar bisa membentuk tangga nada D mayor tersebut, yaitu F# dan C#. Berdasarkan contoh atas, D-E = 1, E-F# = 1, F#-G = 0.5, G-A = 1, B-C# = 1, C#-D = 0.5.

Sumber: http://musi101.com/files/2014/04/3a3.png

Tangga nada mayor dalam kunci-kunci yang berbeda. Apabila do = F, maka hanya ada 1 flat/mol, yaitu Bb, sedangkan jika do = G, maka hanya ada 1 sharp/kres, yaitu F#, dan lain-lain.

*Agar kita mampu menghafal berapa sharp/kres yang ada dalam sebuah tangga nada mayor berdasarkan ‘do’ yang kita pilih untuk lagu atau melodi yang kita mainkan atau nyanyikan, kita menggunakan sistem circle of fifths, namun sebelum kita mendiskusikan tentang hal tersebut, kita harus mengerti apa saja jenis interval dulu, jadi saya tidak akan membahasnya di posting blog ini. Untuk sekarang, yang penting kalian tahu dulu apa itu tangga nada mayor agar mampu mengerti konsep-konsep yang akan saya bahas di posting-posting selanjutnya πŸ™‚ πŸ™‚

Penutup – Rangkuman

Berdasarkan penjelasan-penjelasan tadi, gw berharap kalian sekarang mengerti tentang hal-hal berikut:

  • Pentingnya teori musik dalam menjadikan kita musisi atau penyanyi yang lebih komplit, serta
  • Konsep-konsep seperti musical alphabet, accidental, dan tangga nada mayor atau major scale yang merupakan dasar dari semua konsep-konsep teori musik yang akan saya jelaskan di ke depannya.

Di posting selanjutnya, saya akan membahas tentang interval atau jarak antara kedua nada, minor scale atau tangga nada minor, serta pembentukan akord (yang saya juga pernah jelaskan sedikit di topik “Cara Membuat Video A Cappella, Part 1”) dan bagaimana cara membentuk progresi akord yang notabene enak sehingga kita bisa mulai menulis lagu kita sendiri.

Semoga informasi di atas bermanfaat, dan sekali lagi, jika ada pertanyaan, komentar atau kritik dan saran, silakan komentar di bawah atau DM saya di https://www.instagram.com/timc9219/ – selamat membaca, sukses selalu dan jangan pernah berhenti berkreasi!

Salam,

Tim πŸ˜€ πŸ˜€


Tim’s Sharing: Cara Membuat Aransemen A Cappella Yang Bagus

Halo pemirsa dan teman-teman yang sedang membaca,

Semoga Tuhan YME memberkati dan kalian selalu hidup dalam kedamaian, kemakmuran dan ketentraman! Sekali lagi, saya berterima kasih untuk dukungan atau support dari kalian selama ini!

Untuk sesi sharing atau berbagi kali ini, gw akan menjawab request dari Armand Paundu (IG: https://www.instagram.com/armandhpaundu/ – ayo follow IG-nya teman-teman) dan Hansen Gultom (IG: https://www.instagram.com/hansengultom/ – yang juga merupakan penyanyi dengan suara kece) mengenai bagaimana caranya agar kita mampu memproduksi sebuah aransemen a cappella yang bagus. Sekali lagi, ini adalah pertanyaan yang sangat bagus, guys, dan meski saya sendiri juga masih belajar, saya akan berbagi berdasarkan pengalaman – saya sungguh berharap bahwa sesi sharing saya akan sangat bermanfaat untuk kalian ya!

Apa Itu Aransemen Musik?

Nah, sebelum kita ke main point alias poin utama dari posting ini, kita harus mengetahui dulu apa itu definisi dari sebuah aransemen musik:

An arrangement is a musical reconceptualization of a previously composed work.

Cook, Richard (2005). Richard Cook’s Jazz Encyclopedia. London: Penguin Books. p.Β 20. ISBNΒ 0-141-00646-3.

Berdasarkan quote atau kutipan tersebut, sebuah aransemen adalah rekonseptualisasi dari sebuah komposisi musik yang ada. Dengan kata lain, kita menciptakan konsep baru dari lagu tersebut, dan hal ini melibatkan penyesuaian komposisi dengan suara atau instrumen lain tanpa menghilangkan esensi dari musiknya.

Dalam dunia a cappella, rearrangement atau aransemen ulang dari sebuah lagu yang sudah ada merupakan hal yang sangat umum, terutama lagu-lagu populer yang aransemen aslinya rata-rata tidak menggunakan hanya suara saja namun juga instrumen-instrumen lain. Berikut adalah beberapa contoh aransemen a cappella dari lagu-lagu populer:

Aransemen dari OST film animasi The Lion King yang berjudul “Circle of Life” oleh salah satu penyanyi a cappella paling terkenal di YouTube, Peter Hollens. Video ini sangat sukses dan telah mencapai lebih dari 1,6 juta penonton atau viewers.
Aransemen a cappella dari salah satu tema piano ragtime yang paling ikonik, The Entertainer. Ini merupakan aransemen a cappella yang unik di mana sebuah instrumental disesuaikan untuk suara secara total. Video ini termasuk sangat sukses dan telah melebih 61 ribu penonton di YouTube.

Karena mengaransemen lagu yang ada khusus untuk suara saja adalah hal yang sangat sering terjadi di genre a cappella, sangat penting bagi kita untuk bisa melakukannya jika ingin bergelut di dunia tersebut. Lantas, bagaimana caranya agar kita mampu membuat aransemen a cappella yang menarik dan bagus, bukan hanya untuk diri sendiri namun untuk para pendengar juga?

Tips 1: Perbanyak mendengarkan aransemen a cappella dari artis-artis yang sudah diakui untuk memperkaya referensi

Jika kalian sama sekali tidak familiar dengan musik a cappella, jelas-jelas kalian tidak mungkin akan membuat aransemen a cappella yang baik sendiri, seperti bagaimana pemain gitar rock akan terdengar sangat aneh saat mencoba bermain jazz jika tidak mengerti style-nya. Berikut adalah beberapa artis-artis a cappella yang telah diakui oleh masyarakat yang bisa kalian jadikan sebagai referensi: 

Home Free (country a cappella)
The King’s Singers (untuk penggemar klasik, meski terkadang-kadang mereka juga mencoba cross over ke materi yang lebih kontemporer agar materi mereka bervariasi)
Pentatonix (pop a cappella)
Ringmasters (barbershop quartet)
Jacob Collier (jazz/experimental – cocok sekali buat kalian yang merupakan penggemar akord-akord njelimet!)
Take 6 (jazz a cappella – seperti Jacob Collier, grup yang satu ini cocok buat mereka yang merupakan penggemar akord-akord aneh)

Yang harus diingat juga adalah untuk tidak menjadikan hanya satu artis a cappella sebagai referensi, sebab akhir-akhirnya kita malah hanya akan menjadi pengekor atau peniru artis tersebut dan tidak memiliki identitas sendiri. Dengarkan musik a cappella sebanyak mungkin, dan otomatis kita akan terbiasa dengan apa saja yang merupakan elemen-elemen penting dari genre itu sendiri.

Tips 2: Pilih lagu yang kalian suka atau berkesan bagi kalian untuk diaransemen

Ini jelas penting sekali sebab jika kita memilih lagu yang kita tidak suka, hasil aransemen kita juga kemungkinan besar bakal setengah-setengah dan tidak maksimal. Jika kalian tidak menyukai suatu lagu meskipun lagunya populer, saya sarankan banget untuk tidak memilihnya. Kualitas aransemen yang baik dari lagu yang kalian suka meski tidak terlalu terkenal akan lebih memuaskan buat para pendengar daripada aransemen medioker dari lagu yang sangat populer.

Tips 3: Selalu pelajari lagu yang ingin kalian aransemen secara dalam

Sebelum kita mengaransemen ulang suatu lagu dalam format a cappella, penting sekali bagi kita untuk mempelajarinya agar kita bisa mengenal komposisi tersebut secara lebih dalam. Mempelajari lagu itu bukan sekedar mengenal melodi lagu tersebut serta mencari dan mendapat akord-akordnya di Internet – jika kita benar-benar mempelajari lagu dengan sangat dalam, kita juga bisa mencoba bertanya mengenai hal-hal di bawah:

  • Apa ketukan dari lagu yang ada (6/8, 4/4, dan semacamnya)?
  • Apa genre atau musical style dari lagu aslinya (pop, rock, blues, R&B, soul, jazz, big band, heavy metal, avant-garde, EDM)?
  • Apa nuansa yang dirasakan dari komposisi lagu yang kalian dengar (terang, gelap, lebay/cheesy, keras, easy listening/lembut/santai, slow, nge-beat)?
  • Bagaimana cara sang penyanyi mengekspresikan lirik-lirik di lagu tersebut (contohnya, di Bohemian Rhapsody Freddie Mercury menyanyikan “Mama, just killed a man…” dengan kesedihan yang intens meski tetap mulus, namun saat di bagian “Mama, ooo, I don’t wanna die….” beliau menyanyi dengan menggunakan teknik belting agar mendapatkan emosi yang jauh lebih lantang dan geram)?
  • Apa intensi dari sang penulis untuk membuat lagu tersebut (mengekspresikan rasa sayang terhadap kekasih, hati yang sedang ceria, dll)?
  • Mengapa lagu ini berkesan bagi kalian (mungkin karena kalian ada memori yang sangat signifikan dari lagu ini)?
  • Bagian mana yang menurut kalian paling berkesan di lagu ini (Verse, Chorus, Pre-Chorus, Bridge), dan mengapa (bisa saja mungkin liriknya ada yang kena di hati, atau akord di bagian tersebut mengejutkan kalian karena tidak bisa ditebak)?
  • Jika bagi kalian ada kekurangan, bagian mana yang menurut kalian bisa diperbaiki agar bisa membuat lagu tersebut lebih bernyawa?

Mungkin awal-awalnya kesannya banyak dan merepotkan sekali, namun percaya saya deh, pertanyaan-pertanyaan seperti ini mampu membuat kita mengerti lagu tersebut secara mendalam, sehingga saat kita mengaransemen ulang nanti kita tidak melupakan esensi lagu tersebut meski tetap memberi gaya racikan kita sendiri. Ini penting sekali – menjadi original itu baik, namun kita tidak boleh lupa untuk merespek yang telah menciptakan karya tersebut.

Berbicara tentang mempelajari sebuah lagu…

Tips 4 (Optional): Kalau kalian bisa baca musik, coba studi original score dari lagu tersebut

Tip yang satu ini sebenarnya merupakan extension dari Tips 3. Melakukan studi terhadap partitur asli sebuah lagu itu bukan menjiplak, namun agar mampu mengerti apa yang membuat lagu original-nya sangat bagus dan berkesan untuk pendengarnya.

Tips 5: Bereksperimenlah dengan pergerakan suara yang lebih variatif

Sebagai contoh, menulis pecahan bass yang hanya menyanyikan not-not akar atau root note terus menerus akan menyebabkan hasil yang gampang diprediksi dan sangat monoton. Pergerakan suara yang lebih variatif seperti arpeggiation (menyanyikan setiap not di akord satu per satu dan tidak sebagai satu unit) atau counterpoint (menyanyikan setiap pecahan suara dengan ritem yang berbeda namun terdengar harmonis) akan membuat musik terdengar sangat kaya dan dinamis, sehingga mampu menarik interest dari pendengar atau penonton.

*Topik ini sangat luas, jadi saya akan menjelaskan cara-cara untuk membuat pergerakan suara yang variatif di salah satu posting selanjutnya. Jangan ketinggalan ya!

Contoh aransemen a cappella tembang klasik Earth, Wind and Fire “September”. Setiap pecahan suara terdengar sangat ritmis, sehingga memberi aransemen yang sangat dinamis. Video ini merupakan sebuah contoh dari aransemen yang sukses dan telah memiliki lebih dari 44,000 penonton atau viewers.

Tips 6: Usahakan agar kalian mampu mencapai blend suara yang baik

Menyanyikan not-not harmoni atau pecahan suara dengan benar itu sama sekali tidak cukup untuk menghasilkan blend suara dan aransemen yang baik, sebab banyak sekali faktor yang berpengaruh, yang di antaranya terdiri dari berikut:

  • Level dinamika setiap suara (Keras/lembut)
  • Cara frasering setiap suara (Legato/staccato, straight/swing)
  • Artikulasi/Pembentukan huruf hidup atau vowel dari setiap suara
  • Attack atau cara kita menembak nada dari setiap suara (Harus bersih dan tidak menyendok atau scooping ke nada kecuali jika itu memberi suatu efek musikal yang diinginkan)

Jika salah satu dari faktor di atas ada yang tidak sama atau balans di salah satu pecahan suara yang direkam, maka hasilnya pun akan berpotensi tidak nge-blend. Sebagai contoh yang simpel, jika sang tenor menyanyikan bagiannya secara keras dibandingkan dengan suara-suara yang lain, maka bagian tenor-nya tidak akan menyatu dengan rapi, dan hasilnya pun tidak akan begitu enak didengar. Blend suara yang baik akan memberi suatu ring atau bunyi gema yang enak di kuping dan tentunya membuat bulu kuduk berdiri (dalam konteks yang positif, of course), hehehe….

Tips 7: Reharmonisasi

Reharmonisasi adalah penulisan ulang dari harmoni atau akord-akord yang membentuk sebuah lagu sehingga memberi nuansa dan warna yang benar-benar berbeda. Teknik ini sering digunakan di genre-genre musik seperti jazz atau jazz fusion, namun bisa juga dipakai dalam aransemen a cappella kalian sehingga memberi hasil yang mengejutkan secara positif bagi para penonton atau pendengar. Namun ingat, reharmonisasi itu bukan asal-asalan meng-insert akord yang kompleks, karena progresi akord aransemen yang dibuat juga harus masuk akal dan terdengar enak di telinga.

*Reharmonisasi itu topik yang sangat luas dan membutuhkan pengertian teori musik yang cukup dalam. Karena itu, saya akan menjelaskan tentang reharmonisasi setelah saya membahas teori musik dasar dan jenis-jenis akord miring.

Contoh reharmonisasi dari lagu Balonku oleh salah satu kreator a cappella Indonesia, Tobias Titus – reharmonisasi mampu memberi nuansa yang baru pada sebuah melodi lagu.
Contoh reharmonisasi yang sukses dan super efektif dari Jacob Collier, di mana beliau melakukan aransemen ulang terhadap lagu Don’t You Worry ‘Bout A Thing dari Stevie Wonder secara total.

Tips 8: Bereksperimenlah dengan suara-suara yang tidak lazim

Hal yang sangat membedakan vokal dari instrumen musik lain adalah kemampuan untuk meniru-niru berbagai macam suara dan bukan hanya untuk menyanyikan sebuah melodi yang indah saja. Jangan takut atau malu untuk bereksperimen dengan suara-suara yang tidak lazim, sebab dalam konteks lagu yang kalian ingin aransemen, siapa tahu suara-suara tersebut malah justru memberi efek yang sangat musikal dan artistik. Selain beatboxingΒ yang notabene sangat populer dan sudah menjadi bagian dari mainstream a cappella, banyak sekali suara-suara unik yang bisa kalian lakukan dengan pita suara kalian, seperti suara suling, trompet, dan lain-lain. Aransemen kalian akan menjadi semakin berwarna, dan otomatis orang lain akan menjadi tertarik untuk mendengarnya!

Tutorial dari pakar a cappella sedunia, Deke Sharon, tentang membuat suara suling. Vokal adalah salah satu instrumen paling versatile atau fleksibel yang bisa menciptakan suara-suara artistik, termasuk mengimitasi suara suling!

Tips 9: Dengarlah aransemen yang telah kalian buat lagi, lagi dan lagi

Selalu usahakan untuk mendengarkan aransemen yang telah kalian buat terus menerus sebelum di-upload atau dilatih bersama teman-teman. Siapa tahu dari proses mendengar tersebut, kalian bisa menemukan bagian-bagian yang menurut kalian bisa diperbaiki atau direvisi, seperti:

  • Bagian aransemen yang terdengar terlalu rame atau terlalu sepi
  • Progresi akord dengan resolusi yang lemah atau tension yang kurang cukup (Tension yang kurang cukup akan membuat aransemen terdengar kurang bernyawa, dan begitu juga apabila resolusi dari akord sebelumnya kurang kuat)
  • Progresi akord dengan disonansi yang terlalu berlebihan (sehingga terdengar seperti fals dan tidak enak di kuping)

Tips 10 (Terakhir): Belajar dari kesalahan

Mengaransemen a cappella itu butuh proses pembelajaran yang cukup lama, dan kesalahan-kesalahan pasti akan terjadi pada awal-awalnya. Namun, jangan takuti kesalahan tersebut sebab justru hal itu yang akan membuat kita keluar dari zona nyaman dan menjadi vocal arranger yang jauh lebih berkualitas. Pelajarilah setiap kesalahan yang kalian buat, dan teruslah berbenah untuk aransemen-aransemen selanjutnya agar kalian mampu memproduksi hasil karya dengan kualitas yang baik dan mampu dinikmati oleh diri sendiri maupun para pendengar. Ingat, practice makes perfect!

Saya berharap dengan tips-tips di atas, kalian akan mampu menciptakan karya a cappella yang bagus dan enak untuk dinikmati di kemudian hari. Semoga tulisan di atas bermanfaat, dan jika ada pertanyaan, komentar, kritik atau saran, silakan komentar di bawah atau DM saya langsung di https://www.instagram.com/timc9219/ – pasti akan saya balas atau jawab. Blessings always and stay creative, ok?

Salam,

Tim πŸ™‚ πŸ™‚

Tim’s Sharing: Tips-Tips Agar Konten Tetap Kreatif dan Tidak Selalu Monoton

Halo para pemirsa yang sedang membaca,

Semoga diberkati oleh Tuhan YME selalu dan salam dari saya! Di pagi buta ini, saya ingin memulai dengan berterima kasih pada kalian yang sudah mendukung perjalanan saya sebagai kreator konten selama ini – dukungan dan masukan kalian benar-benar sangat memotivasi saya untuk terus menjadi lebih baik dari hari ini. God bless you all always!

——-

Nah, untuk topik posting hari ini, gw akan menjawab request dari Rebecca di IG Stories (IG: https://www.instagram.com/becca_duchanness/ – ayo follow IG-nya, teman-teman) mengenai bagaimana caranya agar konten kita di media sosial tidak monoton alias itu-itu saja. Ini pertanyaan yang sangat bagus sekali, Becky, dan sebelum saya memberi dan menjelaskan tips-tips yang saya harap bisa berguna untuk kalian semua, saya ingin menekankan bahwa perasaan bosan itu manusiawi dan wajar sekali – tidak ada yang harus dikhawatirkan apabila perasaan tersebut muncul saat kalian berkarya. Yang terpenting adalah mengidentifikasi core reason atau alasan utama di balik kebosanan kita, sehingga kita bisa mencari solusi untuk masalah tersebut.

Masalah Utama: Stagnasi Dalam Zona Nyaman

Kalau bagi saya sendiri, kebosanan itu biasanya terjadi karena kita sudah terlalu stagnan di zona nyaman atau comfort zone kita. Manusia itu secara alami memang bukan makhluk yang diciptakan untuk berada di posisi yang sama terus seumur hidupnya, dan rasa bosan itu penting sebab hal tersebut merupakan sebuah peringatan agar kita tidak stuck melakukan hal yang sama terus menerus.

Apalagi bagi kita yang suka berkarya, stagnasi atau kemacetan dalam zona nyaman sangat berbahaya sebab jika dibiarkan terlalu lama, maka kita akan melakukan hal yang sama terus menerus, sehingga konten atau karya-karya kita bisa menjadi gampang ditebak dan membosankan, dan lama kelamaan kita juga bisa beresiko kehilangan passion dan gairah untuk berkarya. Sebagai contoh, jika kita hanya menyanyikan lagu-lagu dengan tema galau terus menerus, maka para pendengar juga lama-lama akan bosan sebab tahu bahwa konten kita tidak bervariasi dan pasti hanya akan begitu-begitu saja. Lama kelamaan support terhadap karya-karya kita juga bisa menurun, dan hal tersebut berdampak negatif terhadap semangat kita sebagai para kreator konten. Lantas, bagaimana caranya agar kita tidak stuck dalam zona nyaman kita?

Solusi 1: Perbanyak Referensi Musik Kita

Referensi musik itu sangat penting karena bisa menjadi potensi inspirasi bagi kita untuk terus memperbaharui kualitas karya. Semakin banyak referensi bermusik kita, semakin luas kemungkinan kita untuk terus menciptakan karya yang kreatif dan berbeda. Sir Paul McCartney dari The Beatles terinspirasi untuk membuat Sgt. Peppers’ Lonely Hearts Club Band (1967) setelah beliau mendengarkan mahakarya dari grup The Beach Boys yang berjudul Pet Sounds (1966), dan sampai sekarang Sgt. Peppers masih sering dicap oleh para kritikus musik sebagai salah satu album rock terbaik sepanjang masa. Queen, sebelum wafatnya sang legenda Freddie Mercury, juga merupakan grup yang selalu relevan bagi para pendengarnya karena mereka tidak stagnan dengan satu style musik dan terus mengeksplor genre-genre lain di luar rock seperti klasik/opera (Bohemian Rhapsody, Love of My Life), vaudeville (Seaside Rendezvous), funk (Another One Bites The Dust), flamenco (Innuendo, terutama pada bagian solo gitar), rockabilly (Crazy Little Thing Called Love), dan gospel (Somebody To Love) – hal tersebut tidak akan mungkin terjadi apabila referensi musik almarhum Freddie Mercury dan kawan-kawan terbatas dan sempit. Apalagi pada jaman sekarang di mana banyak sekali referensi musik yang bisa ditemukan di dunia maya, sudah tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak melakukan riset dan memperbaharui playlist kita terus menerus.

Bohemian Rhapsody, salah satu lagu terkeren sepanjang masa yang merupakan perpaduan antara ballad, hard rock dan opera. Jika para personil Queen tidak memiliki referensi musik yang luas, tidak mungkin Freddie Mercury (alm.) dan kawan-kawan bisa memproduksi mahakarya berkualitas tinggi seperti lagu ini.
Paint It Black, salah satu lagu rock ‘n’ roll terbaik sepanjang masa yang menggabungkan elemen-elemen musik India lewat permainan sitar yang kreatif dan inovatif dari Brian Jones.

Dengarkan apa saja yang cocok di kuping kalian, mau itu jenis musik yang sama sekali tidak lazim seperti experimental/avant-garde atau extreme metal sekalipun – siapa tahu kalian bisa menemukan inspirasi yang berbeda dari pengalaman mendengar tersebut, dan dengan demikian kalian bisa perlahan-lahan keluar dari stagnasi yang membelenggu kalian.

Solusi 2: Berkolaborasilah Dengan Para Musisi Lain

Seperti yang saya katakan di posting sebelumnya, jaman sekarang itu bukan era kompetisi namun kolaborasi, guys! Berkolaborasi dengan para musisi lain juga akan membuka pintu bagi banyak sekali peluang musikal yang tidak terbatas, sehingga repertoire lagu-lagu kita juga akan menjadi semakin variatif dan tidak stagnan. Oh ya, kolaborasi juga membuat kita menjadi belajar banyak mau dari sisi teknis ataupun musikal dari orang lain, sehingga kita bisa meningkatkan kualitas konten individu kita seterusnya. Belum-belum kita juga membuat banyak teman-teman baru dengan passion yang sama, dan otomatis kita akan menjadi lebih termotivasi untuk berkarya. Seru, kan? Hehehe

Contoh kolaborasi yang efektif antara vokalis mainstream (Ed Sheeran) dengan penyanyi pop klasik kondang (Andrea Bocelli). Meski mereka merupakan penyanyi dengan style musik yang berbeda, kolaborasi ini memberi nuansa yang unik terhadap lagu Perfect itu sendiri.

Solusi 3: Cobalah Mengeksplor Style Yang Berbeda Dari Diri Anda Selama Ini

Sebagai contoh, seorang vokalis akustik mungkin bisa coba merekam cover dengan style aransemen yang lebih a cappella sekali-sekali, dan seorang penyanyi yang lebih sering menyanyi hard rock bisa juga mengeksplor sisi sensitifnya dengan lagu yang lebih soft dan mellow. Dengan mencoba style konten yang berbeda dari biasanya, kita jadi mendapat tantangan tersendiri agar keluar dari zona nyaman kita, sehingga kita tidak terus menerus memproduksi karya yang monoton dan kurang variatif.

Solusi 4: Kalau Ada Waktu, Belajar Teori Musik

Sering kali teori musik itu dianggap sebagai hal teknis yang membosankan dan membelenggu, padahal menurut saya pemikiran seperti itu justru malah membuat kemungkinan berkarya seseorang menjadi one-dimensional dan terbatas. Memang betul sih bahwa mengerti teori musik tidak memastikan kualitas karya anda baik dan banyak sekali musisi atau penyanyi keren yang tidak pernah belajar teori sama sekali, namun itu tidak bisa dijadikan alasan buat kita agar tidak memperbaharui dan meningkatkan skill atau kemampuan kita masing-masing.

Mempelajari teori musik dengan baik dan benar itu tidak akan membelenggu namun justru akan meningkatkan kreativitas anda sebagai musisi atau penyanyi. Seperti contoh, dengan mempelajari akord-akord yang lebih njelimet, not-not apa saja yang membentuk akord-akord tersebut, dan bagaimana cara menggunakannya dalam konteks aransemen lagu atau harmoni di balik sebuah frasa/melodi, kita bisa mendapatkan kualitas harmoni yang lebih menarik dan berbeda dibandingkan apabila kita cuma menggunakan progresi yang generik, formulaik atau biasa-biasa saja – hal tersebut bakal meningkatkan kualitas karya kita sehingga kita tidak menjadi monoton dan terbatas sebagai seorang kreator konten.

*Saya akan menjelaskan tentang teori musik dasar di posting-posting selanjutnya, jadi stay tuned ya!

Karna Su Sayang versi jazz dari salah satu kreator favorit saya di Indonesia, Tobias Titus. Pengertian teori musik justru akan meningkatkan kreativitas dan kemampuan anda untuk berinovasi sebagai seorang kreator atau musisi.
Reharmonisasi Twinkle Twinkle Little Star ala Jacob Collier, salah satu musisi muda yang paling direspek di dunia. Meskipun Twinkle Twinkle Little Star itu memiliki melodi yang simpel, namun pengertian teori musik Jacob yang sangat advanced justru membuat doi mampu menciptakan nuansa yang menarik, kreatif dan berbeda dari nursery rhyme tersebut.

Solusi 5: Coba Ubah Lagu Yang Kalian Nyanyikan Secara Total

Contohnya, kalian bisa mengubah lagu hard rock menjadi versi bossa nova ala Antonio Carlos Jobim, lagu pop balada menjadi versi slow rock/rock ballad ala Scorpions atau Whitesnake, atau bahkan mengubah lagu mayor menjadi minor dan sebaliknya. Hal tersebut justru akan memberi poin plus bagi anda sebagai kreator konten, karena kalian telah berhasil secara kreatif membuat lagu tersebut berbeda dan tidak terdengar seperti versi aslinya. Tapi ingat, kalau bisa jangan terlalu banyak mengubah atau merombak melodi dari lagu tersebut (kecuali jika kalian emang benar-benar mau experimental secara total), sebab nantinya malah justru dikira tidak merespek karya original-nya, hehehe….

Contoh dari sebuah cover song yang efektif namun benar-benar berbeda, tidak seperti versi asli dari BeyoncΓ© yang lebih ‘pop diva’.

Nah, gw harap dengan solusi-solusi di atas, jika ada dari kalian yang sekarang merasa stuck sebagai kreator konten, kalian bisa segera keluar dari masalah stagnasi di zona nyaman tersebut. Semoga tulisan di atas bermanfaat, dan jika ada pertanyaan, komentar, kritik atau saran, silakan komentar di bawah atau DM saya langsung di https://www.instagram.com/timc9219/ – pasti akan saya balas atau jawab. Blessings always and stay creative, ok? πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Salam,

Tim πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Cara Membuat Video A Cappella, Part 5 (Final) – Mengunggah Video Secara Efektif, dan Pesan Penutup

Halo para pemirsa yang sedang membaca,

Salam dari saya – Tuhan YME memberkati selalu! Semoga setelah mencapai bagian ini, kalian sudah mengetahui apa saja hal-hal dan dasar-dasar yang harus dimengerti sebelum dan saat merekam video a cappella kalian masing-masing.

Khusus untuk bagian terakhir dari serial ini, gw akan menjelaskan bagaimana agar kalian mampu mengunggah atau meng-upload video secara efektif agar mampu menarik penonton atau viewers sebanyak mungkin, serta merangkum proses pembuatan video a cappella secara keseluruhan sebagai penutup. Jadi sit back, relax, and hope you all are having a good read…

Cara-Cara Untuk Mengunggah Video A Cappella Secara Efektif

Jika kalian ingin mengunggah atau meng-upload video a cappella untuk publik, jelas saja kita ingin agar video kita makin banyak ditonton atau diekspos untuk orang lain. Oleh karena itu, sebagai posting bonus, berikut adalah cara-cara yang bisa diterapkan dalam mengunggah video-video karya a cappella agar berpotensi menghasilkan jumlah penonton atau viewers yang kalian inginkan:

Gunakan platform media sosial kalian seperti Instagram, YouTube atau Facebook seoptimal mungkin dalam meng-share video-video kalian. Ini sudah jelas sekali karena di situlah kita bisa membagi talenta dan karya-karya kita pada mereka yang tertarik ingin menonton video-video kita. Beberapa hal yang harus diingat saat kita meng-upload karya-karya kita ke media sosial juga adalah:

  • Sertakan hashtag atau tanda pagar (tagar) yang populer dan relevan berdasarkan tema video a cappella yang kalian buat. Contohnya, apabila kalian meng-cover lagu Bohemian Rhapsody dari Queen, sertakan tagar-tagar yang relevan seperti #queen, #freddiemercury, #bohemianrhapsody, #rock, #opera, dan lain-lain.
  • Jangan lupa juga menyertakan tagar dari akun-akun komunitas musik yang suka membagi video-video musik atau cover di media sosial, seperti @indomusikgram, @vokalplus, @topvocalist, dan semacamnya. Ini agar video-video kalian mampu di-notice, sehingga kalau menurut mereka bagus dan menarik akan di-repost – hal ini bisa meningkatkan viewership dan audiens kalian sebagai kreator konten.
  • Tambahkan juga deskripsi konten yang menarik dan engaging, seperti bagaimana lagu tersebut berarti bagi kalian dan/atau apa sesuatu yang mungkin para pendengar tahu dari lagu tersebut.

Sebagai contoh, gw menggunakan salah satu video cover a cappella yang belakangan baru saya unggah di Instagram, yaitu cover dari You’ve Got A Friend In Me, yang juga merupakan OST dari serial film animasi terkenal, Toy Story:

Contoh dari deskripsi serta tagar-tagar yang digunakan untuk video a cappella.

Unggah video a cappella kalian di jam yang tepat. Waktu kapan video di-upload itu sangat berpengaruh terhadap viewership di media sosial. Semua orang itu jam di mana jumlah viewers-nya paling tinggi tidak sama, jadi lakukan eksperimen dengan mengunggah video-video kalian di jam-jam yang berbeda – apabila jumlah viewers, reach dan impressionsΒ kalian selalu paling tinggi di jam tertentu, rencanakan untuk selalu mengunggah video-video yang lain pada waktu tersebut (Contohnya, jumlah viewers, reach dan impressions saya selalu paling tinggi jam 6.30 pagi, jadi saya selalu akan upload video saya di jam tersebut).

Sering-sering berinteraksilah dengan follower, teman-teman atau audiens anda. Jika kalian tidak mengetahui apa yang audiens kalian inginkan atau tidak relevan terhadap mereka sama sekali, otomatis konten yang kalian unggah tidak akan begitu menarik bagi mereka apapun kualitasnya. Lewat platform-platform seperti Instagram stories, Instagram live, DM/chat atau bahkan comments sectionΒ di video-video anda, kalian bisa berinteraksi dengan teman-teman atau para followers di dunia maya dengan mudah, dan hal ini penting sekali agar kalian bisa:

  • Mengetahui apa saja yang diinginkan oleh para teman-teman atau followers yang mungkin bisa kalian coba (contoh paling populer – request lagu, sesi live Q&A atau tanya jawab langsung, dll).
  • Memperbaharui konten terus berdasarkan kritik dan saran pemirsa yang menonton video-video kalian.

Interaksi-interaksi dengan para followers seperti ini akan membuat platform media sosial kalian menjadi lebih hidup, dan kalian juga akan menjadi tetap up-to-date bagi mereka, jadi apabila kalian meng-upload konten kalian di media sosial lagi, otomatis para followers kalian juga akan langsung tertarik untuk melihatnya.

Contoh penggunakan fitur “Questions Sticker” di IG Stories untuk berinteraksi dengan teman-teman dan followers di media sosial – di sini saya menanyakan apabila ada lagu yang bisa di-request untuk video-video selanjutnya. Interaksi itu penting sekali agar mampu menciptakan platform yang lively atau hidup.

Berkolaborasilah dengan para kreator konten dan musisi yang lain. Jaman sekarang sudah bukan era kompetisi namun kolaborasi, bro and sis! Dengan berkolaborasi bersama musisi-musisi dan para kreator konten di komunitas, kalian akan saling belajar dari satu sama lain dari sisi musikal maupun non-musikal. Menjadikan 2 atau 3 visi dan misi menjadi satu dan seimbang itu memang merupakan sebuah tantangan, namun jika berhasil akan menjadikan hasil karya yang sangat baik, yang otomatis juga akan memberi audience interest atau ketertarikan audiens yang tinggi.

Kolaborasi juga akan membuat kalian mengenal kelebihan dan kekurangan kalian secara masing-masing, sehingga kalian bisa memperbaharui konten di kedepannya, dan kualitas konten kalian juga otomatis akan meningkat sehingga membuat upload kalian menjadi semakin efektif. Seru, bukan?

Contoh dari kolaborasi yang efektif, yaitu antara Peter Hollens dan Roomie, dua kreator konten terkenal di YouTube. Menggabungkan dua visi menjadi satu hasil karya yang baik dan berkualitas bisa membuat upload kalian menjadi jauh lebih efektif dan disenangi oleh audiens kalian masing-masing.

Pesan Penutup: Rangkuman dari Proses Pembuatan Video A Cappella

Dengan demikian, penjelasan tersebut adalah hal terakhir yang ingin saya diskusi dari serial “Cara Membuat Video A Cappella” ini. Jadi, sekedar untuk recap dari awal, langkah-langkah dasar yang harus diikuti dari proses pembuatan video a cappella itu adalah berikut:

  1. Ketahuilah akord-akord atau progresi akord dari lagu yang ingin kalian nyanyikan atau cover. Jika kalian masih belum mengenal apa itu akord dan jenis-jenis dasarnya, silakan kunjungi Part 1 untuk diskusi secara detil mengenai hal tersebut.
  2. Buatlah pecahan atau pembagian harmoni suara dari lagu tersebut berdasarkan akord-akord lagu yang ada (baca Part 2 untuk caranya), dan rekamlah setiap bagian suara menggunakan gear rekaman audio yang kalian miliki sebelum di-Export menjadi satu file .mp3 yang kalian bisa pakai untuk video kalian nanti (Part 3).
  3. Rekamlah video-video bagian-bagian suara kalian berdasarkan jumlah suara yang telah kalian rekam, dan gunakan video editing software yang kalian miliki untuk mengedit dan mensinkronisasi semua video yang ada dengan file .mp3 yang sudah kalian produksi (untuk lebih lanjut, baca Part 4).
  4. Setelah rendering, upload video kalian di YouTube, Instagram, Facebook, dan platform-platform media sosial kalian agar teman-teman dan followers/subscribers kalian bisa menikmati video a cappella yang telah diunggah.

Semoga informasi-informasi dalam 5 posting terakhir ini sangat bermanfaat, dan apabila ada pertanyaan, kritik, atau saran, silakan komentar di bawah atau kirim DM di Instagram saya yaitu https://www.instagram.com/timc9219/ πŸ™‚ πŸ™‚

Salam and stay creative,

Tim πŸ˜€ πŸ˜€

Cara Membuat Video A Cappella, Part 4 – Video Recording and Editing

Halo para pemirsa yang sedang membaca,

Semoga diberkati selalu dan salam dari saya! Seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, karena banyak sekali request dan pertanyaan di IG sticker saya mengenai cara membuat video a cappella, saya memutuskan untuk membuat serial 5 Part mengenai topik ini. Sekarang, saya akan melanjutkan diskusi saya di posting terbaru yang satu ini, yang juga merupakan Part atau Bab 4.

Sekedar untuk informasi saja, di posting saya sebelumnya, saya sudah menjelaskan hal-hal ini secara detil:

  • Gear yang digunakan untuk merekam audio a cappella yang cukup jernih dengan setup yang tidak rumit sama sekali, serta
  • Langkah-langkah dan tips-tips yang harus diikuti sebelum, saat dan sesudah merekam setiap pecahan suara berdasarkan aransemen lagu yang tersedia.

Nah, di bab kali ini, gw akan menjelaskan bagaimana cara merekam dan mengedit part-part video a cappella dan mensinkronisasi semua video yang ada dengan file .mp3 dari audio yang sudah kita rekam. Sebelum mulai mengedit, ada tiga hal-hal penting yang harus kita keep in mind:

Hal 1: Alat Perekam Video Itu Tidak Harus Mahal, Bro and Sis!

Yang jelas, kita harus memiliki alat perekam video agar mampu menghasilkan file-file video yang bisa kita edit dan sinkronisasi nantinya. Jika kalian memiliki kamera DSLR atau semacamnya, that is good, tetapi jujur kita tidak perlu keluar biaya banyak untuk hal yang satu ini – pada jaman sekarang, sebuah smartphone yang standar saja mampu memproduksi kualitas video yang cukup baik asalkan aspek-aspek berikut diperhatikan:

Wajah kita jelas. Sudah pasti sebagai subjek, kita-nya harus kelihatan dan fokus dari lensa kamera terhadap wajah kita harus baik, sebab kalau tidak, mana mungkin para penonton bisa melihat ekspresi kita di video berdasarkan lagu yang kita nyanyikan? Hehehehe…….

Lighting sekeliling kita tidak gelap. Kecuali jika kita menginginkan hasil yang lebih dark untuk konsep video berdasarkan tema dari lagu yang kita rekam, lighting yang gelap itu tidak direkomendasikan karena bukan hanya wajah kita menjadi tidak jelas, tetapi surrounding atau lingkungan sekeliling kita juga tidak akan enak dilihat oleh penonton.

Sumber: https://www.macworld.com/article/1156606/holidayphototips.html

Contoh dari
lighting yang buruk (kiri) dan sebaliknya (kanan). Di contoh yang kiri, wajah subjek tidak kelihatan karena lighting yang buram dan gelap.

Video diambil dari posisi dan angle atau sudut yang baik. Kecuali jika ada efek artistik yang kita inginkan, kalau bisa video yang kita ambil itu jangan diambil dari posisi dan angle atau sudut yang aneh (contohnya, gambar video terlihat miring) atau membuat ekspresi kita tidak begitu enak dilihat.

Video bergerak dengan mulus dan tidak lagging atau terlihat lamban di kamera. Hal tersebut tidak enak dilihat sebab selain kualitasnya terputus-putus dan sangat menganggu, video yang terlalu lagging bahkan bisa membuat pergerakan mulut kita tidak tersinkronisasi dengan baik bersama audio yang kita rekam.

Hal 2: Jumlah Video Yang Harus Kita Rekam Semuanya Tergantung Dari Berapa Pecahan Suara Yang Ada

Contohnya, jika kita ada 8 part suara (sopran 1-sopran 2-alto 1-alto 2-tenor 1 -tenor 2-bass 2-bass 1), kita tentunya jadi merekam 8 video, di mana satu video merepresentasikan satu part suara, dan seterusnya. Videonya bisa direkam secara live (audio dan video direkam bersamaan) atau pre-recorded (audio direkam dulu sebelum video), asalkan kualitas video yang diproduksi baik dan jelas.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=NPGWP3b4WA0

Contoh video a cappella dengan 6 pecahan suara. Karena ada 6 pecahan suara, jadi ada total 6 video yang harus direkam.
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=PniD4vEdNHw

Contoh video a cappella dengan 4 pecahan suara. Karena ada 4 pecahan suara, jadi ada 4 video yang direkam.

Hal 3: Miliki Aplikasi Perangkat Lunak atau Software Application Untuk Mengedit dan Mensinkron Video

Banyak sekali software application atau aplikasi perangkat lunak yang bagus di pasaran, seperti Adobe Premiere Pro, Final Cut Pro, VideoPad, dan seterusnya. Secara pribadi sih saya menggunakan VideoPad karena sudah terbiasa untuk waktu yang sangat lama (gw udah menggunakan software atau perangkat lunak ini lebih dari 3 tahun), tetapi pada akhirnya tidak ada preferensi yang salah – semuanya tergantung mana yang menurut kalian paling nyaman untuk digunakan secara work flow.

Contoh dari sebuah aplikasi perangkat lunak untuk mengedit video.

Dengan mengingat hal-hal tersebut, kita sekarang bisa merekam dan kemudian maju ke tahap selanjutnya, yaitu mengedit video-video yang ada dan mensinkronnya dengan file .mp3 dari a cappella yang sudah jadi agar mampu memproduksi karya dengan kualitas yang top markotop pastinya πŸ™‚

Langkah-Langkah Mengedit Video A Cappella

Untuk menjelaskan langkah-langkah yang harus dilalui dalam mengedit video a cappella, gw akan menggunakan beberapa screenshot dari salah satu video cover kolaborasi a cappella saya dengan teman bermusik saya (cek Instagram-nya juga ya btw – konten musiknya pokoknya variatif dan menarik banget wkwkwkwkwk) – lagu yang kita cover adalah Because, yang juga merupakan salah satu lagu favorit saya dari album The Beatles yang berjudul Abbey Road.

Taruh semua video yang ada secara urutan yang kalian inginkan, dan sinkronisasikan videonya berdasarkan waveform audio tersebut.

Cara mengecek apabila semuanya sudah sinkron itu berdasarkan dari waveform audio setiap video yang ada. Video-video yang telah tersinkronisasi dengan baik memiliki waveform yang selaras jika dibandingkan dari satu sama lain.

Contoh dari video-video yang telah tersinkronisasi. Seperti yang tertera di gambar atas, setiap audio dari video yang telah direkam selaras jika dibandingkan dengan satu sama lain.

Setelah semua video telah tersinkronisasi dengan baik, selaraskan file .mp3 dari a cappella yang telah kalian rekam di DAW software (GarageBand, Cubase, dll) dengan audio dari video, lalu matikan atau mute audio-audio dari video tersebut agar hanya menyisakan file .mp3 yang ada.

Hal ini kita lakukan agar menghasilkan kualitas suara yang balans, bersih dan tidak ke-double dari audio video-video yang tersedia (yang juga notabene lebih kasar kualitasnya).

Seperti yang tertera di gambar atas, hanya file .mp3 final a cappella saja yang dibiarkan menyala, sedangkan audio dari setiap video di-mute atau dimatikan.

Setelah .mp3 akhir dan video-video yang ada tersinkronisasi semua, lakukanlah editing yang kalian inginkan sekreatif mungkin.

Banyak hal yang bisa dieksperimen dalam software atau aplikasi editing video yang kalian gunakan agar mampu memproduksi video yang menarik, seperti style animasi, transisi, size/ukuran video, layout dan sebagainya. Hal ini tidak bisa dijelaskan secara detil sebab kalian harus melakukannya sendiri, dan setiap orang pasti memiliki konsep pembuatan video yang berbeda sehingga tidak bisa disamaratakan, namun yang pasti selalu usahakan agar transisi dari satu layout ke layout lain terlihat mulus.

Contoh dari eksperimen effects dan layout yang saya gunakan. Dengan adanya 7 video (1 piano/harpsichord dan 6 part suara), saya jadi menaruh piano/harpsichord di kiri dan keenam video yang lain di kanan sehingga menghasilkan video keseluruhan yang seimbang secara layout. Karena lagu yang kita rekam bernuansa lebih soft dan mellow, saya menggunakan pola black and white agar video yang diciptakan bisa lebih nge-blend dengan mood yang ingin dicapai.

Setelah mengedit video dengan kreatif, tambahkan title atau judul dengan font yang enak dilihat agar mampu menciptakan thumbnail yang menarik sebelum melakukan rendering.

Banyak sekali font yang menarik namun juga bisa di-download atau diunduh secara gratis di Internet. Seusai melakukan rendering, maka hasil video akhir yang ada akan terlihat seperti ini:

Contoh dari thumbnail yang bisa digunakan saat di-upload di YouTube, Instagram atau platform media sosial yang lain. Agar mampu mendapat hasil thumbnail yang menarik, di contoh ini saya menuliskan titel lagu dengan font yang sama seperti logo dari The Beatles.

Contoh thumbnail-thumbnail lain yang saya gunakan untuk video-video a cappella saya adalah berikut, dan semuanya juga mengikuti proses editing yang sama:

Contoh-contoh dari thumbnail-thumbnail cover-cover a cappella saya yang lain.

Dengan demikian, setelah kita berhasil me-render video yang kita telah buat, kita lalu bisa meng-upload video tersebut ke YouTube atau Instagram agar karya kita mampu bisa didengar oleh teman-teman atau para subscriber dan follower kita di dunia maya. Di Part 5 atau bagian terakhir dari serial ini, gw akan menjelaskan bagaimana caranya agar mampu meng-upload dan mempromosikan karya kita secara efektif di Internet (khususnya Instagram) agar mampu menarik penonton atau viewers sebanyak mungkin, jadi stay tuned ya! Selamat mencoba merekam video a cappella kalian sendiri, dan apabila ada pertanyaan, kritik atau saran, silakan komentar atau kirim DM di Instagram saya yaitu https://www.instagram.com/timc9219/ πŸ™‚ πŸ™‚

Salam,

Tim πŸ˜€ πŸ˜€

Cara Membuat Video A Cappella, Part 3 – Vocal Recording

Halo Dear Readers,

Sekali lagi, salam dari saya dan semoga hidup kalian diberkati oleh Tuhan YME selalu! Seperti yang gw janjikan di posting saya sebelumnya, karena banyak sekali request dan pertanyaan di IG sticker saya mengenai cara membuat video a cappella, saya memutuskan untuk membuat serial 5 Part mengenai topik ini, dan sekarang saya akan lanjutkan diskusi saya dari Part 2 di posting terbaru saya yang satu ini.

Di posting sebelumnya, saya sudah menjelaskan 2 hal ini secara detil:

  • Macam-macam jenis suara (Bass, bariton, tenor, alto, mezzo-sopran, sopran)
  • Cara-cara untuk membagi suara dari sebuah progresi akord lagu yang ada berdasarkan jumlah suara yang diinginkan atau jenis-jenis suara yang tersedia.

Nah, dengan adanya harmoni suara yang kita inginkan, sekarang adalah saatnya kita maju ke bagian selanjutnya, yaitu merekam part-part suara tersebut sehingga menghasilkan sebuah audio a cappella yang pasti jos kualitasnya πŸ˜€ πŸ˜€ Berikut adalah langkah-langkah yang harus kita lalui agar mampu memproduksi audio a cappella yang baik yang nantinya bisa dipakai untuk video kita:

Langkah Pertama: Investasi Gear Untuk Audio

Yang jelas, saya tidak merekomendasikan smartphone sebagai alat untuk merekam audio, sebab voice recorder HP itu dari sananya memang bukan didesain untuk rekaman berkualitas baik, di mana noise atau suara-suara latar yang berisik bisa menganggu kejelasan atau clarity audio anda. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah untuk menginvestasi sebagian dari uang kita untuk gear atau alat rekaman audio, dan berdasarkan pengalaman saya, empat equipment-equipment yang sangat essential atau paling penting secara dasar untuk home recording adalah berikut:

Mikrofon condenser / Condenser microphone – Sebuah mikrofon condenser itu selalu digunakan untuk rekaman rumah ataupun studio karena sensitivitas serta kualitas suara yang diproduksi sangat superior dan jernih. Banyak sekali merek-merek yang berkualitas di pasaran, seperti Samson, IK Multimedia, Audio-Technica, dll – silakan lakukan riset di Google untuk mencari apa saja tipe yang direkomendasikan oleh para pengguna, dan baca resensi-resensi yang ada. Kalau secara pribadi, saya merekomendasikan mikrofon condenser tipe USB yang bisa langsung dicolok ke laptop dengan mudah – setup-nya sama sekali tidak rumit namun mampu menghasilkan kualitas rekaman yang cukup baik.

Sumber: https://www.ebay.com/itm/SF-922B-USB-Condenser-Sound-Microphone-Clear-Digital-Sound-with-Shock-Mount-/122355712715

Contoh sebuah mikrofon condenser USB yang langsung bisa dicolok ke laptop.

Satu hal penting sekali yang harus diingat adalah jangan jadikan harga mikrofon sebagai patokan – lebih mahal belum tentu lebih baik. Mikrofon itu hanya memberi kualitas audio yang lebih jernih, namun pada akhirnya kualitas karya kita semua ditentukan dari suara kita sendiri.

Sebuah laptop yang mampu bekerja dengan baik (Windows/Mac) – Laptop apa saja bisa kita gunakan asalkan berfungsi dengan baik dengan memori yang cukup untuk meng-store hasil kerja dan karya-karya kita sendiri.

Noise-cancelling headphones – Headphones jenis satu ini penting sekali untuk meredam suara yang berisik dari ambiens ruangan atau lingkungan sekitar. Kita juga butuh headphones agar mampu mendengar setiap track saat melakukan rekaman part kita tanpa meng-double hasil rekaman yang ada. Sekali lagi, banyak sekali merek headphones yang bagus kualitasnya di pasaran, seperti Shure, Sennheiser atau Audio-Technica – lakukan riset di Google dan baca review atau resensi dari para pengguna sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Sumber: https://www.blibli.com/p/audio-technica-ath-avc200-headphone/pc–MTA-1045165?ds=STS-16697-01689-00001&gclid=EAIaIQobChMI2bHx2ciM4AIVUK6WCh1KdAn0EAQYAiABEgIzkvD_BwE&gclsrc=aw.ds

Contoh noise-cancelling headphones.

DAW software / perangkat lunak Digital Audio Workstation – Pastikan bahwa di laptop anda ada sebuah aplikasi perangkat lunak atau application software yang mampu digunakan untuk merekam, meng-edit dan memproduksi audio. Sekali lagi, banyak sekali merek-merek DAW software yang bagus di pasaran, seperti Cubase, Logic Pro, GarageBand (kalau ini sudah in-built langsung untuk pengguna Macbook), Ableton Live dan Pro Tools – silakan lakukan riset di waktu senggang dan tentukan perangkat lunak DAW apa yang cocok berdasarkan work flow anda.

Contoh sebuah perangkat lunak DAW (GarageBand).

Nah, dengan adanya 4 essential equipments untuk home recording di atas, kita sekarang bisa maju ke tahap rekaman suara.

Langkah Kedua: Merekam Suara 

Merekam audio untuk a cappella itu agak berbeda dari non-a cappella sebab kita tidak memiliki musik latar atau background music yang bisa menjadi referensi kita. Oleh karena itu, beberapa hal-hal berikut sangat penting sebelum kita melakukan rekaman suara a cappella:

Gunakan metronom yang tersedia di perangkat lunak DAW sebagai referensi dari tempo bernyanyi anda.
Metronom itu penting sekali dalam mendikte tempo dan ketukan kita saat merekam suara. Tanpa klik dari metronom sebagai referensi tempo yang konsisten saat bernyanyi, kita takutnya nanti bergelut dengan 2 masalah berikut:

  • Tempo yang tidak konsisten – Menyanyikan lagu dengan tempo yang lari ke mana-mana sudah jelas akan tidak enak didengar.
  • Tempo yang lebih cepat atau lebih lambat dari yang diinginkan – Hal tersebut bisa berakibat pada rusaknya feel atau rasa dari lagu tersebut. Tempo yang terlalu cepat bisa merusak groove sebuah lagu dan bahkan bisa membuat anda kesulitan menyanyikan lirik-lirik lagu dengan mudah, dan tempo yang terlalu lambat bisa membuat lagu tersebut menjadi draggy atau ‘nyeret’ sehingga membosankan untuk didengar.
Contoh dari sebuah metronom dan komponen-komponennya dalam sebuah perangkat lunak DAW (GarageBand). Metronom itu mendikte tempo dan ketukan kita saat bernyanyi, yang bisa kita set dengan sesuka hati kita sebelum mulai merekam.

Selalu gunakan piano, aplikasi pitch atau pitch flute/peluit nada untuk memainkan nada pertama dari part suara yang kita ingin rekam.

Tanpa referensi pitch, mudah sekali kita nantinya menyanyi fals atau di kunci yang salah. Oleh karena itu, penting sekali kita memainkan nada pertama menggunakan piano, aplikasi pitch (yang bisa diunduh dari Google Play Store atau iTunes) atau peluit nada/pitch pipe sebelum bernyanyi – ini agar supaya kita memiliki referensi untuk menyesuaikan atau menyelaraskan suara kita sebelum mulai.

Sumber: https://www.steveweissmusic.com/product/kratt-chromatic-mk-2s-pitch-pipe/metronome-tuner

Contoh sebuah pitch pipe atau peluit nada. Peluit ini biasanya digunakan oleh grup-grup a cappella, koor atau ensemble vokal untuk menyelaraskan suara dengan nada pertama yang dimainkan, sehingga para penyanyi bisa menyanyi di kunci yang benar.
Sebuah screenshot dari aplikasi yang biasa saya gunakan untuk memainkan nada pertama saat merekam a cappella, yaitu Perfect Piano. Aplikasi ini bisa diunduh dari Google Play Store atau iTunes secara gratis.

Dengan demikian, setelah men-set metronom pada tempo dan ketukan yang kita inginkan, kita lalu bisa mulai merekam setiap suara. Sebagai contoh, gw menggunakan pembagian-pembagian suara dari Part 2, yang mengikuti progresi C-Am-Dm-G (tidak ada pitch correction software yang digunakan sama sekali – semuanya direkam secara langsung):

Keempat track yang telah direkam.

Not-not Bass = C3-A2-D3-G2

Not-not Baritone = G3-A3-A3-G3

Not-not Tenor 2 = C4-C4-D4-B3

Not-not Tenor 1 = E4-E4-F4-D4

Dengan keempat track tersebut digabungkan dan disinkronisasi, akan seperti ini hasil akhirnya, yaitu di mana pecahan suara dari bass, bariton, tenor 2 dan tenor 1 menyanyikan susunan nada-nada yang berbeda namun terdengar harmonis dan menyatu:

Hal-hal yang harus diingat saat dan setelah kita merekam a cappella tersebut adalah:

  • Setiap part suara volumenya harus diatur agar hasil akhirnya balans. Jangan sampai ada pecahan suara yang tidak kedengaran sama sekali karena tertutup oleh suara-suara lain.
  • Untuk mencapai blend atau penyatuan suara yang baik, jangan paksakan nada-nada tinggi kalian saat bernyanyi, sebab nanti hasil akhirnya bakal kasar dan tidak menyatu dengan baik, dan bahkan intonasi kalian juga akan bermasalah. Jika nada tinggi di harmoni tersebut merupakan bagian dari akord dan bukan lead/bagian solo, anda boleh menggunakan falset atau head voice jika bisa – bahkan menurut saya, falset atau head voice itu sangat direkomendasikan kalau untuk harmonisasi karena hasilnya akan lebih halus atau smooth di kuping.

Nah, file audio .mp3 akhir tersebut yang nanti akan kita gunakan untuk video kita, di mana setelah tahap ini kita akan merekam video untuk setiap part sebelum kita edit dan akhirnya upload hasil akhirnya di Instagram atau YouTube. Hal ini akan kita diskusikan lagi di Part 4 dari serial ini, jadi stay tuned as always. Jika anda ada alat-alat dan perangkatnya di rumah, selamat mencoba kapanpun di waktu senggang anda, dan apabila ada pertanyaan, kritik atau saran, silakan komentar atau kirim DM di Instagram saya yaitu https://www.instagram.com/timc9219/ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Salam,

Tim πŸ˜€ πŸ˜€

Cara Membuat Video A Cappella, Part 2 – Pembagian Suara

Halo pemirsa yang sedang membaca,

Semoga diberkati selalu dan salam dari saya! Seperti yang gw janjikan di posting saya sebelumnya, karena banyak sekali request dan pertanyaan di IG sticker saya mengenai cara membuat video a cappella, saya memutuskan untuk membuat serial 5 Part mengenai topik ini, dan sekarang saya akan lanjutkan diskusi saya dari Part 1 di postingΒ terbaru saya yang satu ini. Jadi, keep yourselves updated ya, and here we go…

Jenis dan Pembagian SuaraΒ 

Sebelum kita mendiskusi cara mengaransemen akord menjadi pembagian suara, sangat penting bagi kita untuk mengenal jenis-jenis pecahan suara tersebut. Dalam sebuah grup vokal, koor atau ensemble suara, kita mungkin sering mendengar kata-kata seperti sopran, alto, tenor, dan bass, yang juga merupakan pembagian suara dari urutan yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Pengertian akan jenis suara dalam sebuah aransemen vokal/a cappella itu penting sekali agar kita bisa mengetahui dan mengukur range suara masing-masing supaya kita tidak memberi part yang terlalu tinggi atau terlalu rendah untuk rekan-rekan kita atau bahkan diri kita sendiri.

*Setiap nada itu referensi pengukurannya berdasarkan C4 atau middle CΒ di piano, di mana C3 – C satu oktaf di bawah middle C, C2 – C dua oktaf di bawah middle C, dan seterusnya.

Sumber: https://music.stackexchange.com/questions/9987/on-a-piano-scale-what-is-considered-middle-c

Jenis pembagian suara dalam sebuah paduan suara atau grup vokal itu terdiri dari berikut:

  • BassΒ – Jenis suara terendah pria. Dalam sebuah paduan suara atau grup vokal, seorang bass juga merupakan fondasi dalam sebuah akord atau harmoni. Biasanya wilayah suara asli yang satu ini melingkupi nada-nada D2-D4, meski ada juga beberapa penyanyi bass yang bisa menyanyi lebih tinggi atau lebih rendah.
  • BaritonΒ – Jenis suara pria tengah. Seorang bariton biasanya bisa melingkupi nada-nada suara asli F2-G4, dan dalam paduan suara dia bisa menyanyi part bass atau tenor tergantung zona nyamannya secara individu.
  • Tenor – Jenis suara pria yang tinggi. Seorang tenor itu bisa menyanyikan nada-nada suara asli C3-C5, meskipun dalam konteks paduan suara atau grup vokal biasanya nada-nada tinggi yang dipakai tidak melebihi G4-A4.
  • Alto – Jenis suara wanita yang rendah. Seorang alto itu biasanya bisa menyanyikan nada-nada suara asli C#3-D#5, meskipun dalam konteks paduan suara atau grup vokal biasanya nada-nada tinggi yang dipakai tidak melebihi C5-D5.
  • Mezzo-sopran – Jenis suara wanita tengah. Seorang mezzo-sopran itu biasanya bisa menyanyikan nada-nada suara asli D3 – F5, dan dalam sebuah paduan suara dia bisa menyanyikan part alto atau sopran tergantung zona nyamannya secara individu.
  • Sopran – Jenis suara wanita yang tinggi. Dalam sebuah paduan suara atau grup vokal, seorang sopran juga menyanyikan bagian-bagian paling tinggi dalam sebuah harmoni atau akord. Wilayah suara yang satu ini secara range suara asli melingkupi nada-nada G3 – A5 dalam sebuah paduan suara, meskipun ada juga yang dengan head voice bisa mencapai C6 atau lebih.

Cara Mengaransemen Sebuah Akord Dalam Lagu Menjadi Part Suara

Seperti yang kita diskusikan di Part 1 serial ini, hal awal yang terpenting dalam membuat suatu aransemen a cappella adalah mengetahui progresi akord lagu tersebut. Menggunakan contoh di serial sebelumnya, jika semisalnya ada progresi akord C-Am-Dm-G, kita jadi bisa mengetahui not-not apa saja yang membentuk akord-akord tersebut:

  • C = C-E-G (C ke E itu jaraknya 2, E ke G itu 1.5)
  • Am = A-C-E (A ke C itu jaraknya 1.5, C ke E itu 2)
  • Dm = D-F-A (D ke F itu jaraknya 1.5, F ke A itu 2)
  • G = G-B-D (G ke B itu jaraknya 2, B ke D itu 1.5)

Langkah kedua yang lalu kita lakukan adalah mengetahui jenis vokal diri sendiri atau setiap penyanyi di grup vokal atau koor. Hal ini penting sekali sebab kita tidak mau diri kita sendiri atau orang lain kesulitan bernyanyi karena bagian suara yang terlalu tinggi atau rendah. Semisalnya dalam sebuah paduan suara kuartet pria, ada empat penyanyi yaitu A, B, C, dan D, di mana kita mengetahui range dan karakter suara mereka masing-masing terlebih dahulu:

  • A bersuara rendah (bass alami) dan bisa menyanyi terletak di antara Eb2-F4. Namun, zona nyaman A lebih berada di kisaran Eb2-C4. Berdasarkan informasi tersebut, kita tidak akan menulis part yang lebih tinggi dari C4 atau lebih rendah dari Eb2.
  • B memiliki suara tengah dan bisa menyanyikan nada-nada E2-A4. Namun, zona nyaman B lebih di F2-E4. Berdasarkan informasi yang ada, kita tidak akan menulis part yang lebih tinggi dari E4 atau lebih rendah dari F2.
  • C juga memiliki suara tengah yang lebih tinggi dari B dan bisa menyanyikan nada-nada F2-Bb4. Akan tetapi, zona nyaman C lebih di kisaran G2-Ab4. Oleh karena itu, kita tidak akan menulis part yang lebih tinggi dari Ab4 atau lebih rendah dari G2.
  • D memiliki karakter suara yang tinggi (high tenor) dan bisa menyanyikan nada-nada A2-D5 dengan suara asli. Namun, di bawah B2, suara D mulai goyang dan sulit stabil karena terlalu rendah, dan di atas B4 suara D mulai terdengar memaksa. Head voice D juga kurang terlatih dan takutnya nanti tidak nge-blend dengan suara-suara yang lain. Oleh karena itu, kita tidak akan menulis part yang lebih rendah dari B2 dan lebih tinggi dari B4.

Nah, kita lalu bisa mengaransemen progresi akord yang ada berdasarkan suara-suara yang tersedia, dan setiap suara mungkin bisa menyanyikan nada dengan suku kata seperti ‘uuuuu’, ‘duuuu’ atau ‘aaaa’. Kalau khusus untuk contoh ini, saya secara pribadi akan mengaransemennya seperti berikut:

  • Penyanyi A = C3-A2-D3-G2 (Bass 2) – nada terendah A tidak lebih rendah dari Eb2 dan nada tertinggi A tidak lebih tinggi dari C4
  • Penyanyi B = G3-A3-A3-G3 (Bass 1/Bariton) – nada terendah B tidak lebih rendah dari F2 dan nada tertinggi B tidak lebih tinggi dari E4
  • Penyanyi C = C4-C4-D4-B3 (Tenor 2/Tenor Rendah) – nada terendah C tidak lebih rendah dari G2 dan nada tertinggi C tidak lebih tinggi dari Ab4
  • Penyanyi D = E4-E4-F4-D4 (Tenor 1/Tenor Tinggi) – nada terendah D tidak lebih rendah dari B2 dan nada tertinggi D tidak lebih tinggi dari B4

Semua orang pasti akan mengaransemennya dengan cara yang agak berbeda dari satu sama lain, tapi ada 2 hal yang harus diingat saat membagi suara dari sebuah progresi akord:

  1. Jangan memberi part yang terlalu tinggi atau rendah bagi setiap penyanyi, seperti yang sudah didiskusikan, dan
  2. Kecuali untuk penyanyi bass 2 (karena bass yang terendah itu akar dari akord) atau jika memang mendesak, usahakan agar setiap nada yang dinyanyikan dalam suatu part suara tidak beda jauh jaraknya dari satu sama lain. Jika jarak antara nada dalam satu part suara terlalu jauh, nanti pergerakan suara (dan dengan demikian, harmoninya) tidak akan mulus atau smooth. Seperti contoh di atas, not-not yang dinyanyikan oleh penyanyi D adalah E4, F4 dan D4, yang tidak jauh dari satu sama lain, berikut juga dengan penyanyi C yang menyanyikan not-not C4, D4 dan B3, dan seterusnya.

Masih banyak lagi yang bisa didiskusikan mengenai hal ini, dan teorinya sejubel, (seperti counterpoint, contrary motion dll), namun ini adalah hal paling dasar dari membuat video atau aransemen a cappella yang kalian bisa terapkan di rumah sebelum progres ke topik-topik selanjutnya. Berdasarkan aransemen suara yang ada, nanti saya akan lanjut ke cara merekam setiap suara di Part 3 dari serial ini. Selamat membaca dan jika ada pertanyaan, kritik dan saran silakan DM di IG gue agar saya bisa terus memperbaharui posting saya di kedepannya! πŸ™‚ πŸ™‚

Salam,

Tim πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Cara Membuat Video A Cappella, Part 1 – Pengertian Harmoni dan Akord

Halo pemirsa yang sedang membaca, selamat datang di blog ini yang juga merupakan resolusi pribadi saya untuk tahun 2019, yaitu agar bisa terus membagi dan belajar dari satu sama lain!

Seperti yang dijanjikan di stories Instagram saya (i.e. @timc9219), di blog ini saya akan lebih mendiskusi tentang musik, khususnya dunia a cappella, harmoni dan teori musik dasar. Karena banyak sekali request dan pertanyaan di IG sticker gue mengenai cara-cara membuat video a cappella, saya memutuskan untuk membuat serial 5 Part mengenai topik yang satu ini, sebab banyak sekali hal-hal yang harus di-cover agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian. Jadi keep yourselves updated ya, and here we go…

Apa itu Akord dan Apa Saja Jenis-Jenis Akord?
Langkah pertama yang penting banget jika ingin membuat aransemen a cappella adalah pengertian tentang macam-macam jenis akord, sebab jika tidak mengerti nanti kalian bakal kesulitan sendiri saat mencoba menulis atau merekam pecahan suara.

Nah, untuk kalian yang pernah belajar instrumen musik seperti gitar, keyboard dan piano atau menyanyi di paduan suara, mungkin kalian sering banget dengar kata yang satu ini. Akord, atau chords dalam Bahasa Inggris, adalah kumpulan tiga nada (triad) atau lebih yang jika dimainkan secara bersamaan akan membuat bunyi yang terdengar sangat harmonis. Akord itu sangat penting sebab:

  • Akord itu adalah salah satu building block atau blok pembangun sebuah lagu atau komposisi musik. Tanpanya, musik akan terdengar kurang ‘penuh’ atau bernyawa. Coba nyanyikan melodi dari lagu favorit kalian tetapi tanpa akord – kedengarannya agak hampa kan hehehehe.
  • Mood dan rasa sebuah lagu atau frasa lagu itu ditentukan oleh akord atau progresi akord yang dimainkan. Sebagai contoh yang paling mendasar, akord minor itu sering dikaitkan dengan mood yang lebih gelap atau sedih, dan sebaliknya jika di mayor.

Jenis-jenis akord itu terdiri dari berbagai macam, di antaranya adalah akord mayor, minor, diminished, augmented, dominant seventh, mayor 7, half-diminished, dan sebagainya. Namun, khusus untuk blog post ini, gw hanya akan fokus ke mayor, minor, diminished dan augmented saja – sisanya, termasuk teori yang lebih mendalam, akan saya diskusi di posting-posting lain:

Akord mayor

Akord mayor itu biasa dituliskan hanya dengan huruf kapital dari not akarnya atau root note-nya saja. Sebagai contoh, C mayor itu dituliskan sebagai C, D mayor D, E mayor E, F mayor F, dan seterusnya. Sebuah triad mayor itu biasanya dikaitkan dengan rasa atau mood yang lebih terang dan gembira, dan interval antara nadanya adalah 2 dan 1.5, seperti contoh-contoh berikut:

  • C – C-E-G (C ke E itu 2, E ke G itu 1.5)
  • D – D-F#-A (D ke F# itu 2, F# ke A itu 1.5)
  • E – E-G#-B (E ke G# itu 2, G# ke B itu 1.5)…. dan seterusnya

Akord minor

Akord minor itu biasanya dituliskan dengan huruf kapital dari not akarnya dan kemudian dilanjutkan huruf ‘m’. Sebagai contoh, C minor itu dituliskan sebagai Cm, D minor Dm, dan seterusnya. Sebuah triad minor itu biasanya dikaitkan dengan mood yang sedih atau gelap, dan interval antara nadanya adalah 1.5 dan 2, seperti contoh-contoh berikut:

  • Cm – C-Eb-G (C ke Eb itu 1.5, Eb ke G itu 2)
  • Dm – D-F-A (D ke F itu 1.5, F ke A itu 2)
  • Em – E-G-B (E ke G itu 1.5, G ke B itu 2)… dan seterusnya

Akord diminished

Tidak seperti kedua akord sebelumnya, sebuah diminished triad itu biasanya dituliskan dengan kata ‘dim’, contohnya C diminished Cdim, D diminished Ddim, dan seterusnya. Untuk akord yang satu ini, interval antara nadanya adalah sama-sama 1.5, seperti contoh-contoh berikut:

  • Cdim – C-Eb-Gb (C ke Eb itu 1.5, Eb ke Gb itu juga 1.5)
  • Ddim – D-F-Ab (D ke F itu 1.5, F ke Ab itu 1.5)… dan seterusnya

Akord augmented

Sebuah augmented triad itu biasanya dituliskan dengan kata ‘aug’, contohnya C augmented itu Caug, D augmented Daug, dan seterusnya. Interval antara nadanya adalah sama-sama 2, seperti contoh-contoh berikut ini nih:

  • Caug – C-E-G# (C ke E itu 2, E ke G# itu juga 2)
  • Daug – D-F#-A# (D ke F# itu 2, F# ke A# itu juga 2)… dan seterusnya

Cara Mengaplikasikan Konsep Akord Dalam Aransemen A Cappella 

Pengertian berbagai macam akord akan sangat membantu dalam aransemen suara karena kita jadi mampu mengetahui apa saja nada-nada yang cocok atau bisa masuk dalam sebuah progresi akord dan harmoni sebuah lagu. Sebagai contoh, jika semisalnya ada progresi akord C-Am-Dm-G, kita otomatis langsung tahu not-not apa saja yang membentuk akord-akord tersebut:

  • C = C-E-G (C ke E itu 2, E ke G itu 1.5)
  • Am = A-C-E (A ke C itu 1.5, C ke E itu 2)
  • Dm = D-F-A (D ke F itu 1.5, F ke A itu 2)
  • G = G-B-D (G ke B itu 2, B ke D itu 1.5)

Dengan informasi yang ada, kita lalu bisa mengatur bagaimana setiap pecahan suara dalam harmoni bergerak sehingga mampu menghasilkan harmoni yang mulus dan indah. Hal ini akan saya diskusikan di bagian kedua serial ini, jadi stay tuned dan jangan ketinggalan setiap update yang ada! πŸ™‚ πŸ™‚

Selamat membaca dan semoga informasi di atas sangat bermanfaat, dan jangan pernah berhenti berkreasi!

Salam,

Tim πŸ˜€ πŸ˜€

Featured

…And Here I Am.

Welcome to my blog!

I am Tim Liu, your 26-year old Average Joe from Jakarta, Indonesia, and as a lifelong learner in music I love all things harmony. This blog will mainly focus on my musical journey and development as well as my sharing with regards to everything a cappella. Stay tuned for more updates and future postings!

Music is an agreeable harmony for the honor of God and the permissible delights of the soul. β€” Johann Sebastian Bach

Regards and with love,

Tim πŸ™‚