Halo pemirsa dan teman-teman yang sedang membaca,
Semoga Tuhan YME selalu memberkati hidup kalian dengan damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal! Sekali lagi, saya sungguh berterima kasih atas segala dukungan dan pesan-pesan positif yang saya terima selama ini – you guys are the best, and I absolutely cannot thank God enough for you all!
Berdasarkan dari request yang saya terima di IG Stories selama ini, banyak yang meminta saya untuk menjelaskan tentang akord miring dan cara menggunakannya dalam lagu atau aransemen a cappella. Sebelum saya membahas tentang akord miring, saya harus menjelaskan beberapa hal-hal dasar yang penting (dan juga mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama), sebab tanpa pengertian teori musik dasar kalian bisa kesulitan mencerna konsep-konsep yang lebih kompleks.
Nah, oleh karena itu, saya memutuskan untuk membuat serial baru berjudul “Teori Musik Dasar”, di mana setiap minggunya saya akan menjelaskan beberapa basic dalam teori musik yang harus dimengerti. Saya akan membahasnya secara bertahap, jadi apabila ada pertanyaan, jangan lupa untuk DM saya di IG (https://www.instagram.com/timc9219/) atau tulis pertanyaan kalian di Comments Section di bawah. Jadi, let us get started, and here we go…
Mengapa Teori Musik Itu Penting?
Banyak sekali yang sering menganggap teori musik itu tidak penting dan hanya merupakan peraturan-peraturan yang membuat seni musik itu terbatas. Padahal, menurut gw secara pribadi, justru teori musik itu sangat penting karena:
Teori mampu membantu kita mengkomunikasikan musik yang ingin kita mainkan dengan musisi lain. Tanpa teori, mengkomunikasikan musik dengan teman-teman musisi kita di band, paduan suara atau ensemble akan menjadi sulit. Seperti contoh, seorang dirigen koor bakal kewalahan mengkomunikasikan pada para sopran apa yang harus dinyanyikan apabila doi tidak mengerti teori musik sama sekali.
Teori mampu membuat kita jadi lebih mengapresiasi musik. Dengan mengerti teori musik, at least on a basic level, kita jadi bisa menjelaskan mengapa modulasi yang terjadi di bridge Here, There Everywhere dari The Beatles (dengarkan video di bawah pada menit 1:00) memberi kehangatan tersendiri pada lagu tersebut atau mengapa transisi antara bagian-bagian yang berbeda di Bohemian Rhapsody terdengar sangat seamless atau mulus. Pengertian teori musik akan membuat kita mampu menganalisa detil-detil yang membentuk lagu tersebut dengan lebih dalam, dan hal itu justru mampu membuat kita jadi lebih mengapresiasi karya-karya musik yang ada dan talenta-talenta yang telah membuatnya.
Teori musik bisa menjadi panduan untuk mencari solusi jika seorang musisi sedang mengalami kesulitan saat berkarya. Tanpanya, seorang musisi bisa berpotensi menemukan jalan buntu atau writer’s block akibat dari tidak adanya panduan atau guide. Sebagai sebuah contoh, seorang pemain gitar yang hanya bisa menghafal bentuk akord namun tidak bisa membuat progresi yang menarik dan enak didengar adalah contoh dari jalan buntu tersebut, di mana dia tidak mengerti mengapa melodi yang dia ciptakan terdengar fals saat dimainkan di atas progresi akord yang ada. Situasi-situasi seperti ini bisa dihindari dengan mempelajari teori musik, sebab sang gitaris jadi mampu menjelaskan mengapa akord-akord yang dia mainkan tidak enak untuk mengiringi melodi yang ada sehingga mampu melakukan perubahan yang dibutuhkan dan menciptakan karya yang lebih enak didengar.
And last but not the least……
Teori musik mampu membuat seorang musisi menjadi jauh lebih original dan kreatif, tidak seperti yang dipercaya kebanyakan orang. Ini jelas poin yang sangat penting sebab sebagai kreator konten, songwriter atau musisi, kita tidak mau membunuh kreativitas kita dengan menciptakan karya yang formulaik dan generik terus menerus. Sebagai contoh, di posting-posting sebelumnya, dengan menggunakan contoh Jacob Collier, saya menjelaskan bagaimana pengertian teori musik mampu memberi doi kualitas harmoni yang jauh lebih menarik dan berbeda.
Jika kita meng-approach teori musik dengan pola pikir yang benar, alias tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang akan membelenggu, kita bukannya akan merasa terbatas, namun justru sebaliknya – kita malah akan menemukan suara kita sendiri dalam berkarya, dan itu yang menurut saya sangat penting apabila kita ingin sukses dalam bidang musik. Melodi dan harmoni yang kita ciptakan juga tidak akan terdengar klise, dan kita juga bisa berimprovisasi tanpa merusak esensi dari lagu yang kita ciptakan atau cover. Seru, bukan? Hehehe…
Untuk permulaan dari topik teori musik, saya akan menjelaskan 3 topik penting di posting ini terlebih dahulu, yaitu:
- Musical alphabet atau yang bisa disebut juga sebagai alfabet musik,
- Accidental – flat (mol, b) dan sharp (kres, #),
- Tangga nada mayor (major scale).
Musical Alphabet / Alfabet Musik
Secara simpelnya, alfabet musik, atau musical alphabet, digunakan untuk merepresentasikan not yang dimainkan oleh sebuah instrumen atau dinyanyikan oleh seorang penyanyi. Setiap not jadi memiliki satu alfabet untuk merepresentasikannya. Seperti mempelajari Bahasa Inggris atau Indonesia, musik juga merupakan suatu bahasa – tanpa alfabet musik, kita bakal sulit untuk menentukan dan mengkomunikasikan not apa saja yang sedang atau harus dimainkan atau dinyanyikan oleh musisi tersebut.
Alfabet musik itu hanya terdiri dari 7 – A sampai G, jadi tidak ada H-Z hehehe. Setiap kali kita telah melewati G ke atas, otomatis kita akan masuk ke A yang lebih tinggi, dan saat kita melewati A ke bawah, kita akan masuk ke G yang lebih rendah, dan seterusnya, seperti ini:
A B C D E F G A B C D E F G…….. (Ke atas)
G F E D C B A G F E D C B A…….. (Ke bawah)
Berdasarkan alfabet musik di atas, jarak dari A ke A yang lebih tinggi, B ke B yang lebih tinggi, C ke C yang lebih tinggi, dan seterusnya itu disebut dalam musik sebagai satu oktaf.
Akan tetapi, meski hanya ada 7 alfabet, musik itu tidak hanya terdiri dari 7 not saja, namun 12. Hal tersebut bisa dijelaskan dengan konsep…
Accidental – Flat (mol, b) dan Sharp (cres, #)
Dalam musik, accidental adalah tanda yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan nada dengan jarak setengah. In this case, tanda flat atau mol (b) digunakan untuk menurunkan nada dengan jarak setengah, dan tanda sharp atau cres (#) digunakan untuk menaikkan nada dengan jarak yang sama.
Biasanya, nada yang sudah dinaikkan setengah juga bisa ditulis sebagai alfabet nada yang lalu diikuti dengan kata ‘-is’, seperti berikut:
- C# – Cis atau C cres / C sharp
- D# – Dis atau D cres / D sharp
- F# – Fis atau F cres / F sharp
- G# – Gis atau G cres / G sharp
- A# – Ais atau A cres / A sharp
Nada yang sudah diturunkan setengah ditulis sebagai alfabet nada yang lalu diikuti dengan kata ‘-es’, seperti berikut:
- Bb = Bes atau B mol / B flat
- Ab = Aes atau A mol / A flat
- Gb = Ges atau G mol / G flat
- Eb = Es atau E mol / E flat
- Db = Des atau D mol / D flat
Tambahan 5 not dengan accidental tersebut memberi total 7 + 5 = 12 not dalam musik, yang juga direpresentasikan dengan instrumen piano/keyboard sebagai berikut:

12 not dalam sebuah piano/keyboard yang terdiri dari 7 not natural (A, B, C, D, E, F, G) dan 5 not dengan accidental (A#/Bb, C#/Db, D#/Eb, F#/Gb, dan G#/Ab)
Berdasarkan ilustrasi not-not dalam piano di gambar atas, bisa dilihat bahwa not A# dan Bb berbunyi sama, dan begitu juga C# dan Db, D# dan Eb, F# dan Gb serta G# dan Ab. Nada yang disebut berbeda namun mewakili bunyi yang sama ini merupakan suatu enharmonic, dan mana penggunaannya yang benar itu semuanya tergantung dari kunci yang dimainkan atau dinyanyikan. Semisalnya, jika kita menyanyi atau memainkan musik di D mayor:
D-E-F#-G-A-B-C#-D
Kita tidak bisa menulis F# sebagai Gb dan C# sebagai Db, sebab akibatnya kita jadi nantinya memiliki dua G (Gb dan G) dan dua D (Db dan D), yang salah berdasarkan dari peraturan alfabet musik. Sebaliknya, untuk contoh flat/mol, jika kita menyanyi atau memainkan musik di F mayor:
F-G-A-Bb-C-D-E-F
Kita tidak boleh menulis Bb sebagai A#, sebab akibatnya kita jadi nantinya memiliki dua A (A dan A#), yang jelas-jelas merupakan penulisan not yang salah berdasarkan key signature tersebut.
Tangga Nada Mayor (Major Scale)
Sebelum kita maju ke hal-hal seperti tangga nada minor, harmoni, akord miring dan modes nantinya, kita harus mengerti tangga nada mayor terlebih dahulu. Tangga nada mayor atau major scale itu merupakan fondasi dari hampir semua melodi atau harmoni musik yang kita mainkan atau nyanyikan apapun genre-nya, dan konsep-konsep teori musik yang lebih mendalam juga semuanya diawali dari sini dulu. Karena itu, di semua buku teori musik dasar, kita tidak pernah luput dari yang namanya major scale, hehehe…..
Pada dasarnya, tangga nada mayor itu adalah sebuah tangga nada diatonik atau dengan nada-nada tanpa perubahan kromatik apapun yang terdiri dari 8 not. Interval atau jarak antara not yang berurutan dalam sebuah major scale terdiri dari 1-1-0.5-1-1-1-0.5, atau jika dalam bentuk solfeggio, seperti yang biasa diajarkan di sekolah musik, kursus piano atau vokal:
do-re-mi-fa-so-la-ti-do
Berdasarkan dari solfeggio yang ada, kita bisa melihat bahwa do-re = 1, re-mi = 1, mi-fa = 0.5, fa-so = 1, so-la = 1, la-ti = 1, ti-do = 0.5. Tangga nada mayor juga terdengar lebih ‘terang’ dan gembira, dan hal ini disebabkan oleh adanya nada ‘mi’ atau berjarak/interval satu major third dari do (saya akan menjelaskan tentang interval di posting-posting selanjutnya, jadi tidak usah panik apabila tidak mengerti).

Tangga nada C mayor atau dengan do = C.
Nah, berdasarkan dari konsep accidental, kita bisa membuat skala mayor berdasarkan dari ‘do’ atau kunci/key center tersebut. Sebagai contoh, dalam kunci D mayor, kita bisa tulis alfabet dan lalu tambah accidental yang benar berdasarkan pengertian 1-1-0.5-1-1-1-0.5 tadi:
D-E-F#-G-A-B-C#-D
Jadi, apabila do = D, maka ada 2 sharp/kres agar bisa membentuk tangga nada D mayor tersebut, yaitu F# dan C#. Berdasarkan contoh atas, D-E = 1, E-F# = 1, F#-G = 0.5, G-A = 1, B-C# = 1, C#-D = 0.5.

Tangga nada mayor dalam kunci-kunci yang berbeda. Apabila do = F, maka hanya ada 1 flat/mol, yaitu Bb, sedangkan jika do = G, maka hanya ada 1 sharp/kres, yaitu F#, dan lain-lain.
*Agar kita mampu menghafal berapa sharp/kres yang ada dalam sebuah tangga nada mayor berdasarkan ‘do’ yang kita pilih untuk lagu atau melodi yang kita mainkan atau nyanyikan, kita menggunakan sistem circle of fifths, namun sebelum kita mendiskusikan tentang hal tersebut, kita harus mengerti apa saja jenis interval dulu, jadi saya tidak akan membahasnya di posting blog ini. Untuk sekarang, yang penting kalian tahu dulu apa itu tangga nada mayor agar mampu mengerti konsep-konsep yang akan saya bahas di posting-posting selanjutnya 🙂 🙂
Penutup – Rangkuman
Berdasarkan penjelasan-penjelasan tadi, gw berharap kalian sekarang mengerti tentang hal-hal berikut:
- Pentingnya teori musik dalam menjadikan kita musisi atau penyanyi yang lebih komplit, serta
- Konsep-konsep seperti musical alphabet, accidental, dan tangga nada mayor atau major scale yang merupakan dasar dari semua konsep-konsep teori musik yang akan saya jelaskan di ke depannya.
Di posting selanjutnya, saya akan membahas tentang interval atau jarak antara kedua nada, minor scale atau tangga nada minor, serta pembentukan akord (yang saya juga pernah jelaskan sedikit di topik “Cara Membuat Video A Cappella, Part 1”) dan bagaimana cara membentuk progresi akord yang notabene enak sehingga kita bisa mulai menulis lagu kita sendiri.
Semoga informasi di atas bermanfaat, dan sekali lagi, jika ada pertanyaan, komentar atau kritik dan saran, silakan komentar di bawah atau DM saya di https://www.instagram.com/timc9219/ – selamat membaca, sukses selalu dan jangan pernah berhenti berkreasi!
Salam,
Tim 😀 😀


