Cara Membuat Video A Cappella, Part 3 – Vocal Recording

Halo Dear Readers,

Sekali lagi, salam dari saya dan semoga hidup kalian diberkati oleh Tuhan YME selalu! Seperti yang gw janjikan di posting saya sebelumnya, karena banyak sekali request dan pertanyaan di IG sticker saya mengenai cara membuat video a cappella, saya memutuskan untuk membuat serial 5 Part mengenai topik ini, dan sekarang saya akan lanjutkan diskusi saya dari Part 2 di posting terbaru saya yang satu ini.

Di posting sebelumnya, saya sudah menjelaskan 2 hal ini secara detil:

  • Macam-macam jenis suara (Bass, bariton, tenor, alto, mezzo-sopran, sopran)
  • Cara-cara untuk membagi suara dari sebuah progresi akord lagu yang ada berdasarkan jumlah suara yang diinginkan atau jenis-jenis suara yang tersedia.

Nah, dengan adanya harmoni suara yang kita inginkan, sekarang adalah saatnya kita maju ke bagian selanjutnya, yaitu merekam part-part suara tersebut sehingga menghasilkan sebuah audio a cappella yang pasti jos kualitasnya 😀 😀 Berikut adalah langkah-langkah yang harus kita lalui agar mampu memproduksi audio a cappella yang baik yang nantinya bisa dipakai untuk video kita:

Langkah Pertama: Investasi Gear Untuk Audio

Yang jelas, saya tidak merekomendasikan smartphone sebagai alat untuk merekam audio, sebab voice recorder HP itu dari sananya memang bukan didesain untuk rekaman berkualitas baik, di mana noise atau suara-suara latar yang berisik bisa menganggu kejelasan atau clarity audio anda. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah untuk menginvestasi sebagian dari uang kita untuk gear atau alat rekaman audio, dan berdasarkan pengalaman saya, empat equipment-equipment yang sangat essential atau paling penting secara dasar untuk home recording adalah berikut:

Mikrofon condenser / Condenser microphone – Sebuah mikrofon condenser itu selalu digunakan untuk rekaman rumah ataupun studio karena sensitivitas serta kualitas suara yang diproduksi sangat superior dan jernih. Banyak sekali merek-merek yang berkualitas di pasaran, seperti Samson, IK Multimedia, Audio-Technica, dll – silakan lakukan riset di Google untuk mencari apa saja tipe yang direkomendasikan oleh para pengguna, dan baca resensi-resensi yang ada. Kalau secara pribadi, saya merekomendasikan mikrofon condenser tipe USB yang bisa langsung dicolok ke laptop dengan mudah – setup-nya sama sekali tidak rumit namun mampu menghasilkan kualitas rekaman yang cukup baik.

Sumber: https://www.ebay.com/itm/SF-922B-USB-Condenser-Sound-Microphone-Clear-Digital-Sound-with-Shock-Mount-/122355712715

Contoh sebuah mikrofon condenser USB yang langsung bisa dicolok ke laptop.

Satu hal penting sekali yang harus diingat adalah jangan jadikan harga mikrofon sebagai patokan – lebih mahal belum tentu lebih baik. Mikrofon itu hanya memberi kualitas audio yang lebih jernih, namun pada akhirnya kualitas karya kita semua ditentukan dari suara kita sendiri.

Sebuah laptop yang mampu bekerja dengan baik (Windows/Mac) – Laptop apa saja bisa kita gunakan asalkan berfungsi dengan baik dengan memori yang cukup untuk meng-store hasil kerja dan karya-karya kita sendiri.

Noise-cancelling headphones – Headphones jenis satu ini penting sekali untuk meredam suara yang berisik dari ambiens ruangan atau lingkungan sekitar. Kita juga butuh headphones agar mampu mendengar setiap track saat melakukan rekaman part kita tanpa meng-double hasil rekaman yang ada. Sekali lagi, banyak sekali merek headphones yang bagus kualitasnya di pasaran, seperti Shure, Sennheiser atau Audio-Technica – lakukan riset di Google dan baca review atau resensi dari para pengguna sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Sumber: https://www.blibli.com/p/audio-technica-ath-avc200-headphone/pc–MTA-1045165?ds=STS-16697-01689-00001&gclid=EAIaIQobChMI2bHx2ciM4AIVUK6WCh1KdAn0EAQYAiABEgIzkvD_BwE&gclsrc=aw.ds

Contoh noise-cancelling headphones.

DAW software / perangkat lunak Digital Audio Workstation – Pastikan bahwa di laptop anda ada sebuah aplikasi perangkat lunak atau application software yang mampu digunakan untuk merekam, meng-edit dan memproduksi audio. Sekali lagi, banyak sekali merek-merek DAW software yang bagus di pasaran, seperti Cubase, Logic Pro, GarageBand (kalau ini sudah in-built langsung untuk pengguna Macbook), Ableton Live dan Pro Tools – silakan lakukan riset di waktu senggang dan tentukan perangkat lunak DAW apa yang cocok berdasarkan work flow anda.

Contoh sebuah perangkat lunak DAW (GarageBand).

Nah, dengan adanya 4 essential equipments untuk home recording di atas, kita sekarang bisa maju ke tahap rekaman suara.

Langkah Kedua: Merekam Suara 

Merekam audio untuk a cappella itu agak berbeda dari non-a cappella sebab kita tidak memiliki musik latar atau background music yang bisa menjadi referensi kita. Oleh karena itu, beberapa hal-hal berikut sangat penting sebelum kita melakukan rekaman suara a cappella:

Gunakan metronom yang tersedia di perangkat lunak DAW sebagai referensi dari tempo bernyanyi anda.
Metronom itu penting sekali dalam mendikte tempo dan ketukan kita saat merekam suara. Tanpa klik dari metronom sebagai referensi tempo yang konsisten saat bernyanyi, kita takutnya nanti bergelut dengan 2 masalah berikut:

  • Tempo yang tidak konsisten – Menyanyikan lagu dengan tempo yang lari ke mana-mana sudah jelas akan tidak enak didengar.
  • Tempo yang lebih cepat atau lebih lambat dari yang diinginkan – Hal tersebut bisa berakibat pada rusaknya feel atau rasa dari lagu tersebut. Tempo yang terlalu cepat bisa merusak groove sebuah lagu dan bahkan bisa membuat anda kesulitan menyanyikan lirik-lirik lagu dengan mudah, dan tempo yang terlalu lambat bisa membuat lagu tersebut menjadi draggy atau ‘nyeret’ sehingga membosankan untuk didengar.
Contoh dari sebuah metronom dan komponen-komponennya dalam sebuah perangkat lunak DAW (GarageBand). Metronom itu mendikte tempo dan ketukan kita saat bernyanyi, yang bisa kita set dengan sesuka hati kita sebelum mulai merekam.

Selalu gunakan piano, aplikasi pitch atau pitch flute/peluit nada untuk memainkan nada pertama dari part suara yang kita ingin rekam.

Tanpa referensi pitch, mudah sekali kita nantinya menyanyi fals atau di kunci yang salah. Oleh karena itu, penting sekali kita memainkan nada pertama menggunakan piano, aplikasi pitch (yang bisa diunduh dari Google Play Store atau iTunes) atau peluit nada/pitch pipe sebelum bernyanyi – ini agar supaya kita memiliki referensi untuk menyesuaikan atau menyelaraskan suara kita sebelum mulai.

Sumber: https://www.steveweissmusic.com/product/kratt-chromatic-mk-2s-pitch-pipe/metronome-tuner

Contoh sebuah pitch pipe atau peluit nada. Peluit ini biasanya digunakan oleh grup-grup a cappella, koor atau ensemble vokal untuk menyelaraskan suara dengan nada pertama yang dimainkan, sehingga para penyanyi bisa menyanyi di kunci yang benar.
Sebuah screenshot dari aplikasi yang biasa saya gunakan untuk memainkan nada pertama saat merekam a cappella, yaitu Perfect Piano. Aplikasi ini bisa diunduh dari Google Play Store atau iTunes secara gratis.

Dengan demikian, setelah men-set metronom pada tempo dan ketukan yang kita inginkan, kita lalu bisa mulai merekam setiap suara. Sebagai contoh, gw menggunakan pembagian-pembagian suara dari Part 2, yang mengikuti progresi C-Am-Dm-G (tidak ada pitch correction software yang digunakan sama sekali – semuanya direkam secara langsung):

Keempat track yang telah direkam.

Not-not Bass = C3-A2-D3-G2

Not-not Baritone = G3-A3-A3-G3

Not-not Tenor 2 = C4-C4-D4-B3

Not-not Tenor 1 = E4-E4-F4-D4

Dengan keempat track tersebut digabungkan dan disinkronisasi, akan seperti ini hasil akhirnya, yaitu di mana pecahan suara dari bass, bariton, tenor 2 dan tenor 1 menyanyikan susunan nada-nada yang berbeda namun terdengar harmonis dan menyatu:

Hal-hal yang harus diingat saat dan setelah kita merekam a cappella tersebut adalah:

  • Setiap part suara volumenya harus diatur agar hasil akhirnya balans. Jangan sampai ada pecahan suara yang tidak kedengaran sama sekali karena tertutup oleh suara-suara lain.
  • Untuk mencapai blend atau penyatuan suara yang baik, jangan paksakan nada-nada tinggi kalian saat bernyanyi, sebab nanti hasil akhirnya bakal kasar dan tidak menyatu dengan baik, dan bahkan intonasi kalian juga akan bermasalah. Jika nada tinggi di harmoni tersebut merupakan bagian dari akord dan bukan lead/bagian solo, anda boleh menggunakan falset atau head voice jika bisa – bahkan menurut saya, falset atau head voice itu sangat direkomendasikan kalau untuk harmonisasi karena hasilnya akan lebih halus atau smooth di kuping.

Nah, file audio .mp3 akhir tersebut yang nanti akan kita gunakan untuk video kita, di mana setelah tahap ini kita akan merekam video untuk setiap part sebelum kita edit dan akhirnya upload hasil akhirnya di Instagram atau YouTube. Hal ini akan kita diskusikan lagi di Part 4 dari serial ini, jadi stay tuned as always. Jika anda ada alat-alat dan perangkatnya di rumah, selamat mencoba kapanpun di waktu senggang anda, dan apabila ada pertanyaan, kritik atau saran, silakan komentar atau kirim DM di Instagram saya yaitu https://www.instagram.com/timc9219/ 🙂 🙂 🙂

Salam,

Tim 😀 😀