Teori Musik Dasar, Part 1 – Pentingnya Teori Musik, Musical Alphabet, Accidental, dan Tangga Nada Mayor

Halo pemirsa dan teman-teman yang sedang membaca,

Semoga Tuhan YME selalu memberkati hidup kalian dengan damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal! Sekali lagi, saya sungguh berterima kasih atas segala dukungan dan pesan-pesan positif yang saya terima selama ini – you guys are the best, and I absolutely cannot thank God enough for you all!

Berdasarkan dari request yang saya terima di IG Stories selama ini, banyak yang meminta saya untuk menjelaskan tentang akord miring dan cara menggunakannya dalam lagu atau aransemen a cappella. Sebelum saya membahas tentang akord miring, saya harus menjelaskan beberapa hal-hal dasar yang penting (dan juga mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama), sebab tanpa pengertian teori musik dasar kalian bisa kesulitan mencerna konsep-konsep yang lebih kompleks.

Nah, oleh karena itu, saya memutuskan untuk membuat serial baru berjudul “Teori Musik Dasar”, di mana setiap minggunya saya akan menjelaskan beberapa basic dalam teori musik yang harus dimengerti. Saya akan membahasnya secara bertahap, jadi apabila ada pertanyaan, jangan lupa untuk DM saya di IG (https://www.instagram.com/timc9219/) atau tulis pertanyaan kalian di Comments Section di bawah. Jadi, let us get started, and here we go…

Mengapa Teori Musik Itu Penting?

Banyak sekali yang sering menganggap teori musik itu tidak penting dan hanya merupakan peraturan-peraturan yang membuat seni musik itu terbatas. Padahal, menurut gw secara pribadi, justru teori musik itu sangat penting karena:

Teori mampu membantu kita mengkomunikasikan musik yang ingin kita mainkan dengan musisi lain. Tanpa teori, mengkomunikasikan musik dengan teman-teman musisi kita di band, paduan suara atau ensemble akan menjadi sulit. Seperti contoh, seorang dirigen koor bakal kewalahan mengkomunikasikan pada para sopran apa yang harus dinyanyikan apabila doi tidak mengerti teori musik sama sekali.

Teori mampu membuat kita jadi lebih mengapresiasi musik. Dengan mengerti teori musik, at least on a basic level, kita jadi bisa menjelaskan mengapa modulasi yang terjadi di bridge Here, There Everywhere dari The Beatles (dengarkan video di bawah pada menit 1:00) memberi kehangatan tersendiri pada lagu tersebut atau mengapa transisi antara bagian-bagian yang berbeda di Bohemian Rhapsody terdengar sangat seamless atau mulus. Pengertian teori musik akan membuat kita mampu menganalisa detil-detil yang membentuk lagu tersebut dengan lebih dalam, dan hal itu justru mampu membuat kita jadi lebih mengapresiasi karya-karya musik yang ada dan talenta-talenta yang telah membuatnya.

Here, There and Everywhere, salah satu mahakarya dari The Beatles. Dengarkan modulasi yang terjadi dari G mayor ke G minor di bagian bridge pada menit 1:00 sebelum kembali lagi ke G mayor pada menit 1:13. Pengertian tentang teori musik akan mampu menjelaskan mengapa bridge tersebut terdengar lebih melankolis, sehingga memberi efek emosional yang lebih signifikan bagi pendengarnya.

Teori musik bisa menjadi panduan untuk mencari solusi jika seorang musisi sedang mengalami kesulitan saat berkarya. Tanpanya, seorang musisi bisa berpotensi menemukan jalan buntu atau writer’s block akibat dari tidak adanya panduan atau guide. Sebagai sebuah contoh, seorang pemain gitar yang hanya bisa menghafal bentuk akord namun tidak bisa membuat progresi yang menarik dan enak didengar adalah contoh dari jalan buntu tersebut, di mana dia tidak mengerti mengapa melodi yang dia ciptakan terdengar fals saat dimainkan di atas progresi akord yang ada. Situasi-situasi seperti ini bisa dihindari dengan mempelajari teori musik, sebab sang gitaris jadi mampu menjelaskan mengapa akord-akord yang dia mainkan tidak enak untuk mengiringi melodi yang ada sehingga mampu melakukan perubahan yang dibutuhkan dan menciptakan karya yang lebih enak didengar.

And last but not the least……

Teori musik mampu membuat seorang musisi menjadi jauh lebih original dan kreatif, tidak seperti yang dipercaya kebanyakan orang. Ini jelas poin yang sangat penting sebab sebagai kreator konten, songwriter atau musisi, kita tidak mau membunuh kreativitas kita dengan menciptakan karya yang formulaik dan generik terus menerus. Sebagai contoh, di posting-posting sebelumnya, dengan menggunakan contoh Jacob Collier, saya menjelaskan bagaimana pengertian teori musik mampu memberi doi kualitas harmoni yang jauh lebih menarik dan berbeda.

Contoh reharmonisasi jazz dari Mary Had A Little Lamb, sebuah nursery rhyme yang terkenal. Mengerti teori musik justru bisa membantu kita menciptakan karya yang berbeda dan tidak klise.

Jika kita meng-approach teori musik dengan pola pikir yang benar, alias tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang akan membelenggu, kita bukannya akan merasa terbatas, namun justru sebaliknya – kita malah akan menemukan suara kita sendiri dalam berkarya, dan itu yang menurut saya sangat penting apabila kita ingin sukses dalam bidang musik. Melodi dan harmoni yang kita ciptakan juga tidak akan terdengar klise, dan kita juga bisa berimprovisasi tanpa merusak esensi dari lagu yang kita ciptakan atau cover. Seru, bukan? Hehehe

Untuk permulaan dari topik teori musik, saya akan menjelaskan 3 topik penting di posting ini terlebih dahulu, yaitu:

  • Musical alphabet atau yang bisa disebut juga sebagai alfabet musik,
  • Accidentalflat (mol, b) dan sharp (kres, #),
  • Tangga nada mayor (major scale).

Musical Alphabet / Alfabet Musik

Secara simpelnya, alfabet musik, atau musical alphabet, digunakan untuk merepresentasikan not yang dimainkan oleh sebuah instrumen atau dinyanyikan oleh seorang penyanyi. Setiap not jadi memiliki satu alfabet untuk merepresentasikannya. Seperti mempelajari Bahasa Inggris atau Indonesia, musik juga merupakan suatu bahasa – tanpa alfabet musik, kita bakal sulit untuk menentukan dan mengkomunikasikan not apa saja yang sedang atau harus dimainkan atau dinyanyikan oleh musisi tersebut.

Alfabet musik itu hanya terdiri dari 7 – A sampai G, jadi tidak ada H-Z hehehe. Setiap kali kita telah melewati G ke atas, otomatis kita akan masuk ke A yang lebih tinggi, dan saat kita melewati A ke bawah, kita akan masuk ke G yang lebih rendah, dan seterusnya, seperti ini:

A B C D E F G A B C D E F G…….. (Ke atas)

G F E D C B A G F E D C B A…….. (Ke bawah)

Berdasarkan alfabet musik di atas, jarak dari A ke A yang lebih tinggi, B ke B yang lebih tinggi, C ke C yang lebih tinggi, dan seterusnya itu disebut dalam musik sebagai satu oktaf.

Akan tetapi, meski hanya ada 7 alfabet, musik itu tidak hanya terdiri dari 7 not saja, namun 12. Hal tersebut bisa dijelaskan dengan konsep…

Accidental – Flat (mol, b) dan Sharp (cres, #)

Dalam musik, accidental adalah tanda yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan nada dengan jarak setengah. In this case, tanda flat atau mol (b) digunakan untuk menurunkan nada dengan jarak setengah, dan tanda sharp atau cres (#) digunakan untuk menaikkan nada dengan jarak yang sama.

Biasanya, nada yang sudah dinaikkan setengah juga bisa ditulis sebagai alfabet nada yang lalu diikuti dengan kata ‘-is’, seperti berikut:

  • C# – Cis atau C cres / C sharp
  • D# – Dis atau D cres / D sharp
  • F# – Fis atau F cres / F sharp
  • G# – Gis atau G cres / G sharp
  • A# – Ais atau A cres / A sharp

Nada yang sudah diturunkan setengah ditulis sebagai alfabet nada yang lalu diikuti dengan kata ‘-es’, seperti berikut:

  • Bb = Bes atau B mol / B flat
  • Ab = Aes atau A mol / A flat
  • Gb = Ges atau G mol / G flat
  • Eb = Es atau E mol / E flat
  • Db = Des atau D mol / D flat

Tambahan 5 not dengan accidental tersebut memberi total 7 + 5 = 12 not dalam musik, yang juga direpresentasikan dengan instrumen piano/keyboard sebagai berikut:

piano keys notes
Sumber: http://www.howtosingsmarter.com/piano-keys-notes/

12 not dalam sebuah piano/keyboard yang terdiri dari 7 not natural (A, B, C, D, E, F, G) dan 5 not dengan accidental (A#/Bb, C#/Db, D#/Eb, F#/Gb, dan G#/Ab)

Berdasarkan ilustrasi not-not dalam piano di gambar atas, bisa dilihat bahwa not A# dan Bb berbunyi sama, dan begitu juga C# dan Db, D# dan Eb, F# dan Gb serta G# dan Ab. Nada yang disebut berbeda namun mewakili bunyi yang sama ini merupakan suatu enharmonic, dan mana penggunaannya yang benar itu semuanya tergantung dari kunci yang dimainkan atau dinyanyikan. Semisalnya, jika kita menyanyi atau memainkan musik di D mayor:

D-E-F#-G-A-B-C#-D

Kita tidak bisa menulis F# sebagai Gb dan C# sebagai Db, sebab akibatnya kita jadi nantinya memiliki dua G (Gb dan G) dan dua D (Db dan D), yang salah berdasarkan dari peraturan alfabet musik. Sebaliknya, untuk contoh flat/mol, jika kita menyanyi atau memainkan musik di F mayor:

F-G-A-Bb-C-D-E-F

Kita tidak boleh menulis Bb sebagai A#, sebab akibatnya kita jadi nantinya memiliki dua A (A dan A#), yang jelas-jelas merupakan penulisan not yang salah berdasarkan key signature tersebut.

Tangga Nada Mayor (Major Scale)

Sebelum kita maju ke hal-hal seperti tangga nada minor, harmoni, akord miring dan modes nantinya, kita harus mengerti tangga nada mayor terlebih dahulu. Tangga nada mayor atau major scale itu merupakan fondasi dari hampir semua melodi atau harmoni musik yang kita mainkan atau nyanyikan apapun genre-nya, dan konsep-konsep teori musik yang lebih mendalam juga semuanya diawali dari sini dulu. Karena itu, di semua buku teori musik dasar, kita tidak pernah luput dari yang namanya major scale, hehehe…..

Pada dasarnya, tangga nada mayor itu adalah sebuah tangga nada diatonik atau dengan nada-nada tanpa perubahan kromatik apapun yang terdiri dari 8 not. Interval atau jarak antara not yang berurutan dalam sebuah major scale terdiri dari 1-1-0.5-1-1-1-0.5, atau jika dalam bentuk solfeggio, seperti yang biasa diajarkan di sekolah musik, kursus piano atau vokal:

do-re-mi-fa-so-la-ti-do

Berdasarkan dari solfeggio yang ada, kita bisa melihat bahwa do-re = 1, re-mi = 1, mi-fa = 0.5, fa-so = 1, so-la = 1, la-ti = 1, ti-do = 0.5. Tangga nada mayor juga terdengar lebih ‘terang’ dan gembira, dan hal ini disebabkan oleh adanya nada ‘mi’ atau berjarak/interval satu major third dari do (saya akan menjelaskan tentang interval di posting-posting selanjutnya, jadi tidak usah panik apabila tidak mengerti).

Sumber: https://www.musictheorytutor.org/wp-content/uploads/2012/10/solfege.png

Tangga nada C mayor atau dengan do = C.

Nah, berdasarkan dari konsep accidental, kita bisa membuat skala mayor berdasarkan dari ‘do’ atau kunci/key center tersebut. Sebagai contoh, dalam kunci D mayor, kita bisa tulis alfabet dan lalu tambah accidental yang benar berdasarkan pengertian 1-1-0.5-1-1-1-0.5 tadi:

D-E-F#-G-A-B-C#-D

Jadi, apabila do = D, maka ada 2 sharp/kres agar bisa membentuk tangga nada D mayor tersebut, yaitu F# dan C#. Berdasarkan contoh atas, D-E = 1, E-F# = 1, F#-G = 0.5, G-A = 1, B-C# = 1, C#-D = 0.5.

Sumber: http://musi101.com/files/2014/04/3a3.png

Tangga nada mayor dalam kunci-kunci yang berbeda. Apabila do = F, maka hanya ada 1 flat/mol, yaitu Bb, sedangkan jika do = G, maka hanya ada 1 sharp/kres, yaitu F#, dan lain-lain.

*Agar kita mampu menghafal berapa sharp/kres yang ada dalam sebuah tangga nada mayor berdasarkan ‘do’ yang kita pilih untuk lagu atau melodi yang kita mainkan atau nyanyikan, kita menggunakan sistem circle of fifths, namun sebelum kita mendiskusikan tentang hal tersebut, kita harus mengerti apa saja jenis interval dulu, jadi saya tidak akan membahasnya di posting blog ini. Untuk sekarang, yang penting kalian tahu dulu apa itu tangga nada mayor agar mampu mengerti konsep-konsep yang akan saya bahas di posting-posting selanjutnya 🙂 🙂

Penutup – Rangkuman

Berdasarkan penjelasan-penjelasan tadi, gw berharap kalian sekarang mengerti tentang hal-hal berikut:

  • Pentingnya teori musik dalam menjadikan kita musisi atau penyanyi yang lebih komplit, serta
  • Konsep-konsep seperti musical alphabet, accidental, dan tangga nada mayor atau major scale yang merupakan dasar dari semua konsep-konsep teori musik yang akan saya jelaskan di ke depannya.

Di posting selanjutnya, saya akan membahas tentang interval atau jarak antara kedua nada, minor scale atau tangga nada minor, serta pembentukan akord (yang saya juga pernah jelaskan sedikit di topik “Cara Membuat Video A Cappella, Part 1”) dan bagaimana cara membentuk progresi akord yang notabene enak sehingga kita bisa mulai menulis lagu kita sendiri.

Semoga informasi di atas bermanfaat, dan sekali lagi, jika ada pertanyaan, komentar atau kritik dan saran, silakan komentar di bawah atau DM saya di https://www.instagram.com/timc9219/ – selamat membaca, sukses selalu dan jangan pernah berhenti berkreasi!

Salam,

Tim 😀 😀


Tim’s Sharing: Cara Membuat Aransemen A Cappella Yang Bagus

Halo pemirsa dan teman-teman yang sedang membaca,

Semoga Tuhan YME memberkati dan kalian selalu hidup dalam kedamaian, kemakmuran dan ketentraman! Sekali lagi, saya berterima kasih untuk dukungan atau support dari kalian selama ini!

Untuk sesi sharing atau berbagi kali ini, gw akan menjawab request dari Armand Paundu (IG: https://www.instagram.com/armandhpaundu/ – ayo follow IG-nya teman-teman) dan Hansen Gultom (IG: https://www.instagram.com/hansengultom/ – yang juga merupakan penyanyi dengan suara kece) mengenai bagaimana caranya agar kita mampu memproduksi sebuah aransemen a cappella yang bagus. Sekali lagi, ini adalah pertanyaan yang sangat bagus, guys, dan meski saya sendiri juga masih belajar, saya akan berbagi berdasarkan pengalaman – saya sungguh berharap bahwa sesi sharing saya akan sangat bermanfaat untuk kalian ya!

Apa Itu Aransemen Musik?

Nah, sebelum kita ke main point alias poin utama dari posting ini, kita harus mengetahui dulu apa itu definisi dari sebuah aransemen musik:

An arrangement is a musical reconceptualization of a previously composed work.

Cook, Richard (2005). Richard Cook’s Jazz Encyclopedia. London: Penguin Books. p. 20. ISBN 0-141-00646-3.

Berdasarkan quote atau kutipan tersebut, sebuah aransemen adalah rekonseptualisasi dari sebuah komposisi musik yang ada. Dengan kata lain, kita menciptakan konsep baru dari lagu tersebut, dan hal ini melibatkan penyesuaian komposisi dengan suara atau instrumen lain tanpa menghilangkan esensi dari musiknya.

Dalam dunia a cappella, rearrangement atau aransemen ulang dari sebuah lagu yang sudah ada merupakan hal yang sangat umum, terutama lagu-lagu populer yang aransemen aslinya rata-rata tidak menggunakan hanya suara saja namun juga instrumen-instrumen lain. Berikut adalah beberapa contoh aransemen a cappella dari lagu-lagu populer:

Aransemen dari OST film animasi The Lion King yang berjudul “Circle of Life” oleh salah satu penyanyi a cappella paling terkenal di YouTube, Peter Hollens. Video ini sangat sukses dan telah mencapai lebih dari 1,6 juta penonton atau viewers.
Aransemen a cappella dari salah satu tema piano ragtime yang paling ikonik, The Entertainer. Ini merupakan aransemen a cappella yang unik di mana sebuah instrumental disesuaikan untuk suara secara total. Video ini termasuk sangat sukses dan telah melebih 61 ribu penonton di YouTube.

Karena mengaransemen lagu yang ada khusus untuk suara saja adalah hal yang sangat sering terjadi di genre a cappella, sangat penting bagi kita untuk bisa melakukannya jika ingin bergelut di dunia tersebut. Lantas, bagaimana caranya agar kita mampu membuat aransemen a cappella yang menarik dan bagus, bukan hanya untuk diri sendiri namun untuk para pendengar juga?

Tips 1: Perbanyak mendengarkan aransemen a cappella dari artis-artis yang sudah diakui untuk memperkaya referensi

Jika kalian sama sekali tidak familiar dengan musik a cappella, jelas-jelas kalian tidak mungkin akan membuat aransemen a cappella yang baik sendiri, seperti bagaimana pemain gitar rock akan terdengar sangat aneh saat mencoba bermain jazz jika tidak mengerti style-nya. Berikut adalah beberapa artis-artis a cappella yang telah diakui oleh masyarakat yang bisa kalian jadikan sebagai referensi: 

Home Free (country a cappella)
The King’s Singers (untuk penggemar klasik, meski terkadang-kadang mereka juga mencoba cross over ke materi yang lebih kontemporer agar materi mereka bervariasi)
Pentatonix (pop a cappella)
Ringmasters (barbershop quartet)
Jacob Collier (jazz/experimental – cocok sekali buat kalian yang merupakan penggemar akord-akord njelimet!)
Take 6 (jazz a cappella – seperti Jacob Collier, grup yang satu ini cocok buat mereka yang merupakan penggemar akord-akord aneh)

Yang harus diingat juga adalah untuk tidak menjadikan hanya satu artis a cappella sebagai referensi, sebab akhir-akhirnya kita malah hanya akan menjadi pengekor atau peniru artis tersebut dan tidak memiliki identitas sendiri. Dengarkan musik a cappella sebanyak mungkin, dan otomatis kita akan terbiasa dengan apa saja yang merupakan elemen-elemen penting dari genre itu sendiri.

Tips 2: Pilih lagu yang kalian suka atau berkesan bagi kalian untuk diaransemen

Ini jelas penting sekali sebab jika kita memilih lagu yang kita tidak suka, hasil aransemen kita juga kemungkinan besar bakal setengah-setengah dan tidak maksimal. Jika kalian tidak menyukai suatu lagu meskipun lagunya populer, saya sarankan banget untuk tidak memilihnya. Kualitas aransemen yang baik dari lagu yang kalian suka meski tidak terlalu terkenal akan lebih memuaskan buat para pendengar daripada aransemen medioker dari lagu yang sangat populer.

Tips 3: Selalu pelajari lagu yang ingin kalian aransemen secara dalam

Sebelum kita mengaransemen ulang suatu lagu dalam format a cappella, penting sekali bagi kita untuk mempelajarinya agar kita bisa mengenal komposisi tersebut secara lebih dalam. Mempelajari lagu itu bukan sekedar mengenal melodi lagu tersebut serta mencari dan mendapat akord-akordnya di Internet – jika kita benar-benar mempelajari lagu dengan sangat dalam, kita juga bisa mencoba bertanya mengenai hal-hal di bawah:

  • Apa ketukan dari lagu yang ada (6/8, 4/4, dan semacamnya)?
  • Apa genre atau musical style dari lagu aslinya (pop, rock, blues, R&B, soul, jazz, big band, heavy metal, avant-garde, EDM)?
  • Apa nuansa yang dirasakan dari komposisi lagu yang kalian dengar (terang, gelap, lebay/cheesy, keras, easy listening/lembut/santai, slow, nge-beat)?
  • Bagaimana cara sang penyanyi mengekspresikan lirik-lirik di lagu tersebut (contohnya, di Bohemian Rhapsody Freddie Mercury menyanyikan “Mama, just killed a man…” dengan kesedihan yang intens meski tetap mulus, namun saat di bagian “Mama, ooo, I don’t wanna die….” beliau menyanyi dengan menggunakan teknik belting agar mendapatkan emosi yang jauh lebih lantang dan geram)?
  • Apa intensi dari sang penulis untuk membuat lagu tersebut (mengekspresikan rasa sayang terhadap kekasih, hati yang sedang ceria, dll)?
  • Mengapa lagu ini berkesan bagi kalian (mungkin karena kalian ada memori yang sangat signifikan dari lagu ini)?
  • Bagian mana yang menurut kalian paling berkesan di lagu ini (Verse, Chorus, Pre-Chorus, Bridge), dan mengapa (bisa saja mungkin liriknya ada yang kena di hati, atau akord di bagian tersebut mengejutkan kalian karena tidak bisa ditebak)?
  • Jika bagi kalian ada kekurangan, bagian mana yang menurut kalian bisa diperbaiki agar bisa membuat lagu tersebut lebih bernyawa?

Mungkin awal-awalnya kesannya banyak dan merepotkan sekali, namun percaya saya deh, pertanyaan-pertanyaan seperti ini mampu membuat kita mengerti lagu tersebut secara mendalam, sehingga saat kita mengaransemen ulang nanti kita tidak melupakan esensi lagu tersebut meski tetap memberi gaya racikan kita sendiri. Ini penting sekali – menjadi original itu baik, namun kita tidak boleh lupa untuk merespek yang telah menciptakan karya tersebut.

Berbicara tentang mempelajari sebuah lagu…

Tips 4 (Optional): Kalau kalian bisa baca musik, coba studi original score dari lagu tersebut

Tip yang satu ini sebenarnya merupakan extension dari Tips 3. Melakukan studi terhadap partitur asli sebuah lagu itu bukan menjiplak, namun agar mampu mengerti apa yang membuat lagu original-nya sangat bagus dan berkesan untuk pendengarnya.

Tips 5: Bereksperimenlah dengan pergerakan suara yang lebih variatif

Sebagai contoh, menulis pecahan bass yang hanya menyanyikan not-not akar atau root note terus menerus akan menyebabkan hasil yang gampang diprediksi dan sangat monoton. Pergerakan suara yang lebih variatif seperti arpeggiation (menyanyikan setiap not di akord satu per satu dan tidak sebagai satu unit) atau counterpoint (menyanyikan setiap pecahan suara dengan ritem yang berbeda namun terdengar harmonis) akan membuat musik terdengar sangat kaya dan dinamis, sehingga mampu menarik interest dari pendengar atau penonton.

*Topik ini sangat luas, jadi saya akan menjelaskan cara-cara untuk membuat pergerakan suara yang variatif di salah satu posting selanjutnya. Jangan ketinggalan ya!

Contoh aransemen a cappella tembang klasik Earth, Wind and Fire “September”. Setiap pecahan suara terdengar sangat ritmis, sehingga memberi aransemen yang sangat dinamis. Video ini merupakan sebuah contoh dari aransemen yang sukses dan telah memiliki lebih dari 44,000 penonton atau viewers.

Tips 6: Usahakan agar kalian mampu mencapai blend suara yang baik

Menyanyikan not-not harmoni atau pecahan suara dengan benar itu sama sekali tidak cukup untuk menghasilkan blend suara dan aransemen yang baik, sebab banyak sekali faktor yang berpengaruh, yang di antaranya terdiri dari berikut:

  • Level dinamika setiap suara (Keras/lembut)
  • Cara frasering setiap suara (Legato/staccato, straight/swing)
  • Artikulasi/Pembentukan huruf hidup atau vowel dari setiap suara
  • Attack atau cara kita menembak nada dari setiap suara (Harus bersih dan tidak menyendok atau scooping ke nada kecuali jika itu memberi suatu efek musikal yang diinginkan)

Jika salah satu dari faktor di atas ada yang tidak sama atau balans di salah satu pecahan suara yang direkam, maka hasilnya pun akan berpotensi tidak nge-blend. Sebagai contoh yang simpel, jika sang tenor menyanyikan bagiannya secara keras dibandingkan dengan suara-suara yang lain, maka bagian tenor-nya tidak akan menyatu dengan rapi, dan hasilnya pun tidak akan begitu enak didengar. Blend suara yang baik akan memberi suatu ring atau bunyi gema yang enak di kuping dan tentunya membuat bulu kuduk berdiri (dalam konteks yang positif, of course), hehehe….

Tips 7: Reharmonisasi

Reharmonisasi adalah penulisan ulang dari harmoni atau akord-akord yang membentuk sebuah lagu sehingga memberi nuansa dan warna yang benar-benar berbeda. Teknik ini sering digunakan di genre-genre musik seperti jazz atau jazz fusion, namun bisa juga dipakai dalam aransemen a cappella kalian sehingga memberi hasil yang mengejutkan secara positif bagi para penonton atau pendengar. Namun ingat, reharmonisasi itu bukan asal-asalan meng-insert akord yang kompleks, karena progresi akord aransemen yang dibuat juga harus masuk akal dan terdengar enak di telinga.

*Reharmonisasi itu topik yang sangat luas dan membutuhkan pengertian teori musik yang cukup dalam. Karena itu, saya akan menjelaskan tentang reharmonisasi setelah saya membahas teori musik dasar dan jenis-jenis akord miring.

Contoh reharmonisasi dari lagu Balonku oleh salah satu kreator a cappella Indonesia, Tobias Titus – reharmonisasi mampu memberi nuansa yang baru pada sebuah melodi lagu.
Contoh reharmonisasi yang sukses dan super efektif dari Jacob Collier, di mana beliau melakukan aransemen ulang terhadap lagu Don’t You Worry ‘Bout A Thing dari Stevie Wonder secara total.

Tips 8: Bereksperimenlah dengan suara-suara yang tidak lazim

Hal yang sangat membedakan vokal dari instrumen musik lain adalah kemampuan untuk meniru-niru berbagai macam suara dan bukan hanya untuk menyanyikan sebuah melodi yang indah saja. Jangan takut atau malu untuk bereksperimen dengan suara-suara yang tidak lazim, sebab dalam konteks lagu yang kalian ingin aransemen, siapa tahu suara-suara tersebut malah justru memberi efek yang sangat musikal dan artistik. Selain beatboxing yang notabene sangat populer dan sudah menjadi bagian dari mainstream a cappella, banyak sekali suara-suara unik yang bisa kalian lakukan dengan pita suara kalian, seperti suara suling, trompet, dan lain-lain. Aransemen kalian akan menjadi semakin berwarna, dan otomatis orang lain akan menjadi tertarik untuk mendengarnya!

Tutorial dari pakar a cappella sedunia, Deke Sharon, tentang membuat suara suling. Vokal adalah salah satu instrumen paling versatile atau fleksibel yang bisa menciptakan suara-suara artistik, termasuk mengimitasi suara suling!

Tips 9: Dengarlah aransemen yang telah kalian buat lagi, lagi dan lagi

Selalu usahakan untuk mendengarkan aransemen yang telah kalian buat terus menerus sebelum di-upload atau dilatih bersama teman-teman. Siapa tahu dari proses mendengar tersebut, kalian bisa menemukan bagian-bagian yang menurut kalian bisa diperbaiki atau direvisi, seperti:

  • Bagian aransemen yang terdengar terlalu rame atau terlalu sepi
  • Progresi akord dengan resolusi yang lemah atau tension yang kurang cukup (Tension yang kurang cukup akan membuat aransemen terdengar kurang bernyawa, dan begitu juga apabila resolusi dari akord sebelumnya kurang kuat)
  • Progresi akord dengan disonansi yang terlalu berlebihan (sehingga terdengar seperti fals dan tidak enak di kuping)

Tips 10 (Terakhir): Belajar dari kesalahan

Mengaransemen a cappella itu butuh proses pembelajaran yang cukup lama, dan kesalahan-kesalahan pasti akan terjadi pada awal-awalnya. Namun, jangan takuti kesalahan tersebut sebab justru hal itu yang akan membuat kita keluar dari zona nyaman dan menjadi vocal arranger yang jauh lebih berkualitas. Pelajarilah setiap kesalahan yang kalian buat, dan teruslah berbenah untuk aransemen-aransemen selanjutnya agar kalian mampu memproduksi hasil karya dengan kualitas yang baik dan mampu dinikmati oleh diri sendiri maupun para pendengar. Ingat, practice makes perfect!

Saya berharap dengan tips-tips di atas, kalian akan mampu menciptakan karya a cappella yang bagus dan enak untuk dinikmati di kemudian hari. Semoga tulisan di atas bermanfaat, dan jika ada pertanyaan, komentar, kritik atau saran, silakan komentar di bawah atau DM saya langsung di https://www.instagram.com/timc9219/ – pasti akan saya balas atau jawab. Blessings always and stay creative, ok?

Salam,

Tim 🙂 🙂

Cara Membuat Video A Cappella, Part 5 (Final) – Mengunggah Video Secara Efektif, dan Pesan Penutup

Halo para pemirsa yang sedang membaca,

Salam dari saya – Tuhan YME memberkati selalu! Semoga setelah mencapai bagian ini, kalian sudah mengetahui apa saja hal-hal dan dasar-dasar yang harus dimengerti sebelum dan saat merekam video a cappella kalian masing-masing.

Khusus untuk bagian terakhir dari serial ini, gw akan menjelaskan bagaimana agar kalian mampu mengunggah atau meng-upload video secara efektif agar mampu menarik penonton atau viewers sebanyak mungkin, serta merangkum proses pembuatan video a cappella secara keseluruhan sebagai penutup. Jadi sit back, relax, and hope you all are having a good read…

Cara-Cara Untuk Mengunggah Video A Cappella Secara Efektif

Jika kalian ingin mengunggah atau meng-upload video a cappella untuk publik, jelas saja kita ingin agar video kita makin banyak ditonton atau diekspos untuk orang lain. Oleh karena itu, sebagai posting bonus, berikut adalah cara-cara yang bisa diterapkan dalam mengunggah video-video karya a cappella agar berpotensi menghasilkan jumlah penonton atau viewers yang kalian inginkan:

Gunakan platform media sosial kalian seperti Instagram, YouTube atau Facebook seoptimal mungkin dalam meng-share video-video kalian. Ini sudah jelas sekali karena di situlah kita bisa membagi talenta dan karya-karya kita pada mereka yang tertarik ingin menonton video-video kita. Beberapa hal yang harus diingat saat kita meng-upload karya-karya kita ke media sosial juga adalah:

  • Sertakan hashtag atau tanda pagar (tagar) yang populer dan relevan berdasarkan tema video a cappella yang kalian buat. Contohnya, apabila kalian meng-cover lagu Bohemian Rhapsody dari Queen, sertakan tagar-tagar yang relevan seperti #queen, #freddiemercury, #bohemianrhapsody, #rock, #opera, dan lain-lain.
  • Jangan lupa juga menyertakan tagar dari akun-akun komunitas musik yang suka membagi video-video musik atau cover di media sosial, seperti @indomusikgram, @vokalplus, @topvocalist, dan semacamnya. Ini agar video-video kalian mampu di-notice, sehingga kalau menurut mereka bagus dan menarik akan di-repost – hal ini bisa meningkatkan viewership dan audiens kalian sebagai kreator konten.
  • Tambahkan juga deskripsi konten yang menarik dan engaging, seperti bagaimana lagu tersebut berarti bagi kalian dan/atau apa sesuatu yang mungkin para pendengar tahu dari lagu tersebut.

Sebagai contoh, gw menggunakan salah satu video cover a cappella yang belakangan baru saya unggah di Instagram, yaitu cover dari You’ve Got A Friend In Me, yang juga merupakan OST dari serial film animasi terkenal, Toy Story:

Contoh dari deskripsi serta tagar-tagar yang digunakan untuk video a cappella.

Unggah video a cappella kalian di jam yang tepat. Waktu kapan video di-upload itu sangat berpengaruh terhadap viewership di media sosial. Semua orang itu jam di mana jumlah viewers-nya paling tinggi tidak sama, jadi lakukan eksperimen dengan mengunggah video-video kalian di jam-jam yang berbeda – apabila jumlah viewers, reach dan impressions kalian selalu paling tinggi di jam tertentu, rencanakan untuk selalu mengunggah video-video yang lain pada waktu tersebut (Contohnya, jumlah viewers, reach dan impressions saya selalu paling tinggi jam 6.30 pagi, jadi saya selalu akan upload video saya di jam tersebut).

Sering-sering berinteraksilah dengan follower, teman-teman atau audiens anda. Jika kalian tidak mengetahui apa yang audiens kalian inginkan atau tidak relevan terhadap mereka sama sekali, otomatis konten yang kalian unggah tidak akan begitu menarik bagi mereka apapun kualitasnya. Lewat platform-platform seperti Instagram stories, Instagram live, DM/chat atau bahkan comments section di video-video anda, kalian bisa berinteraksi dengan teman-teman atau para followers di dunia maya dengan mudah, dan hal ini penting sekali agar kalian bisa:

  • Mengetahui apa saja yang diinginkan oleh para teman-teman atau followers yang mungkin bisa kalian coba (contoh paling populer – request lagu, sesi live Q&A atau tanya jawab langsung, dll).
  • Memperbaharui konten terus berdasarkan kritik dan saran pemirsa yang menonton video-video kalian.

Interaksi-interaksi dengan para followers seperti ini akan membuat platform media sosial kalian menjadi lebih hidup, dan kalian juga akan menjadi tetap up-to-date bagi mereka, jadi apabila kalian meng-upload konten kalian di media sosial lagi, otomatis para followers kalian juga akan langsung tertarik untuk melihatnya.

Contoh penggunakan fitur “Questions Sticker” di IG Stories untuk berinteraksi dengan teman-teman dan followers di media sosial – di sini saya menanyakan apabila ada lagu yang bisa di-request untuk video-video selanjutnya. Interaksi itu penting sekali agar mampu menciptakan platform yang lively atau hidup.

Berkolaborasilah dengan para kreator konten dan musisi yang lain. Jaman sekarang sudah bukan era kompetisi namun kolaborasi, bro and sis! Dengan berkolaborasi bersama musisi-musisi dan para kreator konten di komunitas, kalian akan saling belajar dari satu sama lain dari sisi musikal maupun non-musikal. Menjadikan 2 atau 3 visi dan misi menjadi satu dan seimbang itu memang merupakan sebuah tantangan, namun jika berhasil akan menjadikan hasil karya yang sangat baik, yang otomatis juga akan memberi audience interest atau ketertarikan audiens yang tinggi.

Kolaborasi juga akan membuat kalian mengenal kelebihan dan kekurangan kalian secara masing-masing, sehingga kalian bisa memperbaharui konten di kedepannya, dan kualitas konten kalian juga otomatis akan meningkat sehingga membuat upload kalian menjadi semakin efektif. Seru, bukan?

Contoh dari kolaborasi yang efektif, yaitu antara Peter Hollens dan Roomie, dua kreator konten terkenal di YouTube. Menggabungkan dua visi menjadi satu hasil karya yang baik dan berkualitas bisa membuat upload kalian menjadi jauh lebih efektif dan disenangi oleh audiens kalian masing-masing.

Pesan Penutup: Rangkuman dari Proses Pembuatan Video A Cappella

Dengan demikian, penjelasan tersebut adalah hal terakhir yang ingin saya diskusi dari serial “Cara Membuat Video A Cappella” ini. Jadi, sekedar untuk recap dari awal, langkah-langkah dasar yang harus diikuti dari proses pembuatan video a cappella itu adalah berikut:

  1. Ketahuilah akord-akord atau progresi akord dari lagu yang ingin kalian nyanyikan atau cover. Jika kalian masih belum mengenal apa itu akord dan jenis-jenis dasarnya, silakan kunjungi Part 1 untuk diskusi secara detil mengenai hal tersebut.
  2. Buatlah pecahan atau pembagian harmoni suara dari lagu tersebut berdasarkan akord-akord lagu yang ada (baca Part 2 untuk caranya), dan rekamlah setiap bagian suara menggunakan gear rekaman audio yang kalian miliki sebelum di-Export menjadi satu file .mp3 yang kalian bisa pakai untuk video kalian nanti (Part 3).
  3. Rekamlah video-video bagian-bagian suara kalian berdasarkan jumlah suara yang telah kalian rekam, dan gunakan video editing software yang kalian miliki untuk mengedit dan mensinkronisasi semua video yang ada dengan file .mp3 yang sudah kalian produksi (untuk lebih lanjut, baca Part 4).
  4. Setelah rendering, upload video kalian di YouTube, Instagram, Facebook, dan platform-platform media sosial kalian agar teman-teman dan followers/subscribers kalian bisa menikmati video a cappella yang telah diunggah.

Semoga informasi-informasi dalam 5 posting terakhir ini sangat bermanfaat, dan apabila ada pertanyaan, kritik, atau saran, silakan komentar di bawah atau kirim DM di Instagram saya yaitu https://www.instagram.com/timc9219/ 🙂 🙂

Salam and stay creative,

Tim 😀 😀

Cara Membuat Video A Cappella, Part 2 – Pembagian Suara

Halo pemirsa yang sedang membaca,

Semoga diberkati selalu dan salam dari saya! Seperti yang gw janjikan di posting saya sebelumnya, karena banyak sekali request dan pertanyaan di IG sticker saya mengenai cara membuat video a cappella, saya memutuskan untuk membuat serial 5 Part mengenai topik ini, dan sekarang saya akan lanjutkan diskusi saya dari Part 1 di posting terbaru saya yang satu ini. Jadi, keep yourselves updated ya, and here we go…

Jenis dan Pembagian Suara 

Sebelum kita mendiskusi cara mengaransemen akord menjadi pembagian suara, sangat penting bagi kita untuk mengenal jenis-jenis pecahan suara tersebut. Dalam sebuah grup vokal, koor atau ensemble suara, kita mungkin sering mendengar kata-kata seperti sopran, alto, tenor, dan bass, yang juga merupakan pembagian suara dari urutan yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Pengertian akan jenis suara dalam sebuah aransemen vokal/a cappella itu penting sekali agar kita bisa mengetahui dan mengukur range suara masing-masing supaya kita tidak memberi part yang terlalu tinggi atau terlalu rendah untuk rekan-rekan kita atau bahkan diri kita sendiri.

*Setiap nada itu referensi pengukurannya berdasarkan C4 atau middle C di piano, di mana C3 – C satu oktaf di bawah middle C, C2 – C dua oktaf di bawah middle C, dan seterusnya.

Sumber: https://music.stackexchange.com/questions/9987/on-a-piano-scale-what-is-considered-middle-c

Jenis pembagian suara dalam sebuah paduan suara atau grup vokal itu terdiri dari berikut:

  • Bass – Jenis suara terendah pria. Dalam sebuah paduan suara atau grup vokal, seorang bass juga merupakan fondasi dalam sebuah akord atau harmoni. Biasanya wilayah suara asli yang satu ini melingkupi nada-nada D2-D4, meski ada juga beberapa penyanyi bass yang bisa menyanyi lebih tinggi atau lebih rendah.
  • Bariton – Jenis suara pria tengah. Seorang bariton biasanya bisa melingkupi nada-nada suara asli F2-G4, dan dalam paduan suara dia bisa menyanyi part bass atau tenor tergantung zona nyamannya secara individu.
  • Tenor – Jenis suara pria yang tinggi. Seorang tenor itu bisa menyanyikan nada-nada suara asli C3-C5, meskipun dalam konteks paduan suara atau grup vokal biasanya nada-nada tinggi yang dipakai tidak melebihi G4-A4.
  • Alto – Jenis suara wanita yang rendah. Seorang alto itu biasanya bisa menyanyikan nada-nada suara asli C#3-D#5, meskipun dalam konteks paduan suara atau grup vokal biasanya nada-nada tinggi yang dipakai tidak melebihi C5-D5.
  • Mezzo-sopran – Jenis suara wanita tengah. Seorang mezzo-sopran itu biasanya bisa menyanyikan nada-nada suara asli D3 – F5, dan dalam sebuah paduan suara dia bisa menyanyikan part alto atau sopran tergantung zona nyamannya secara individu.
  • Sopran – Jenis suara wanita yang tinggi. Dalam sebuah paduan suara atau grup vokal, seorang sopran juga menyanyikan bagian-bagian paling tinggi dalam sebuah harmoni atau akord. Wilayah suara yang satu ini secara range suara asli melingkupi nada-nada G3 – A5 dalam sebuah paduan suara, meskipun ada juga yang dengan head voice bisa mencapai C6 atau lebih.

Cara Mengaransemen Sebuah Akord Dalam Lagu Menjadi Part Suara

Seperti yang kita diskusikan di Part 1 serial ini, hal awal yang terpenting dalam membuat suatu aransemen a cappella adalah mengetahui progresi akord lagu tersebut. Menggunakan contoh di serial sebelumnya, jika semisalnya ada progresi akord C-Am-Dm-G, kita jadi bisa mengetahui not-not apa saja yang membentuk akord-akord tersebut:

  • C = C-E-G (C ke E itu jaraknya 2, E ke G itu 1.5)
  • Am = A-C-E (A ke C itu jaraknya 1.5, C ke E itu 2)
  • Dm = D-F-A (D ke F itu jaraknya 1.5, F ke A itu 2)
  • G = G-B-D (G ke B itu jaraknya 2, B ke D itu 1.5)

Langkah kedua yang lalu kita lakukan adalah mengetahui jenis vokal diri sendiri atau setiap penyanyi di grup vokal atau koor. Hal ini penting sekali sebab kita tidak mau diri kita sendiri atau orang lain kesulitan bernyanyi karena bagian suara yang terlalu tinggi atau rendah. Semisalnya dalam sebuah paduan suara kuartet pria, ada empat penyanyi yaitu A, B, C, dan D, di mana kita mengetahui range dan karakter suara mereka masing-masing terlebih dahulu:

  • A bersuara rendah (bass alami) dan bisa menyanyi terletak di antara Eb2-F4. Namun, zona nyaman A lebih berada di kisaran Eb2-C4. Berdasarkan informasi tersebut, kita tidak akan menulis part yang lebih tinggi dari C4 atau lebih rendah dari Eb2.
  • B memiliki suara tengah dan bisa menyanyikan nada-nada E2-A4. Namun, zona nyaman B lebih di F2-E4. Berdasarkan informasi yang ada, kita tidak akan menulis part yang lebih tinggi dari E4 atau lebih rendah dari F2.
  • C juga memiliki suara tengah yang lebih tinggi dari B dan bisa menyanyikan nada-nada F2-Bb4. Akan tetapi, zona nyaman C lebih di kisaran G2-Ab4. Oleh karena itu, kita tidak akan menulis part yang lebih tinggi dari Ab4 atau lebih rendah dari G2.
  • D memiliki karakter suara yang tinggi (high tenor) dan bisa menyanyikan nada-nada A2-D5 dengan suara asli. Namun, di bawah B2, suara D mulai goyang dan sulit stabil karena terlalu rendah, dan di atas B4 suara D mulai terdengar memaksa. Head voice D juga kurang terlatih dan takutnya nanti tidak nge-blend dengan suara-suara yang lain. Oleh karena itu, kita tidak akan menulis part yang lebih rendah dari B2 dan lebih tinggi dari B4.

Nah, kita lalu bisa mengaransemen progresi akord yang ada berdasarkan suara-suara yang tersedia, dan setiap suara mungkin bisa menyanyikan nada dengan suku kata seperti ‘uuuuu’, ‘duuuu’ atau ‘aaaa’. Kalau khusus untuk contoh ini, saya secara pribadi akan mengaransemennya seperti berikut:

  • Penyanyi A = C3-A2-D3-G2 (Bass 2) – nada terendah A tidak lebih rendah dari Eb2 dan nada tertinggi A tidak lebih tinggi dari C4
  • Penyanyi B = G3-A3-A3-G3 (Bass 1/Bariton) – nada terendah B tidak lebih rendah dari F2 dan nada tertinggi B tidak lebih tinggi dari E4
  • Penyanyi C = C4-C4-D4-B3 (Tenor 2/Tenor Rendah) – nada terendah C tidak lebih rendah dari G2 dan nada tertinggi C tidak lebih tinggi dari Ab4
  • Penyanyi D = E4-E4-F4-D4 (Tenor 1/Tenor Tinggi) – nada terendah D tidak lebih rendah dari B2 dan nada tertinggi D tidak lebih tinggi dari B4

Semua orang pasti akan mengaransemennya dengan cara yang agak berbeda dari satu sama lain, tapi ada 2 hal yang harus diingat saat membagi suara dari sebuah progresi akord:

  1. Jangan memberi part yang terlalu tinggi atau rendah bagi setiap penyanyi, seperti yang sudah didiskusikan, dan
  2. Kecuali untuk penyanyi bass 2 (karena bass yang terendah itu akar dari akord) atau jika memang mendesak, usahakan agar setiap nada yang dinyanyikan dalam suatu part suara tidak beda jauh jaraknya dari satu sama lain. Jika jarak antara nada dalam satu part suara terlalu jauh, nanti pergerakan suara (dan dengan demikian, harmoninya) tidak akan mulus atau smooth. Seperti contoh di atas, not-not yang dinyanyikan oleh penyanyi D adalah E4, F4 dan D4, yang tidak jauh dari satu sama lain, berikut juga dengan penyanyi C yang menyanyikan not-not C4, D4 dan B3, dan seterusnya.

Masih banyak lagi yang bisa didiskusikan mengenai hal ini, dan teorinya sejubel, (seperti counterpoint, contrary motion dll), namun ini adalah hal paling dasar dari membuat video atau aransemen a cappella yang kalian bisa terapkan di rumah sebelum progres ke topik-topik selanjutnya. Berdasarkan aransemen suara yang ada, nanti saya akan lanjut ke cara merekam setiap suara di Part 3 dari serial ini. Selamat membaca dan jika ada pertanyaan, kritik dan saran silakan DM di IG gue agar saya bisa terus memperbaharui posting saya di kedepannya! 🙂 🙂

Salam,

Tim 😀 😀 😀